Minggu, 08 November 2009

Somebody's me - Enrique Iglesias

You, do you remember me?
Like, I remember you
Do you spend your life, going back in your mind to that time?
'Cause I, I walk the streets alone
I hate being on my own
And everyone can see that, I really fell
And I'm going through hell
Thinking about you with somebody else

[Chorus:]
Somebody wants you, somebody needs you
Somebody dreams about you every single night
Somebody can't breathe, without you it's lonely
Somebody hopes that one day you will see
That somebody's me
That somebody's me
Yeah...

How, how did we go wrong?
It was so good, and now it's gone
And I pray at night, that our passing will cross
What we hide isn't lost
'Cause you are always driving in my thoughts...

[Chorus]

You will always be in my life, even if I'm not in your life
'Cause you're in my memory
You, will you remember me?
And before you set me free, oh listen please...

[Chorus]

That somebody's me
That somebody's me
---

Kamis, 05 November 2009

Jika Cinta Dia - Geisha

Terlampau sering kau buang air mataku
Tak pernah kau tau dalamnya rasa cintaku
Tak banyak inginku, jangan kau ulangi
Menyakiti aku sesuka kelakuanmu

Kubukan manusia yang tidak berpikir,
Berulang kali kau lakukan itu padaku

**
Jika Cinta Dia
Jujurlah padaku
Tinggalkan aku disini tanpa senyuman mu

Jika Cinta Dia Ku coba mengerti..

Teramat sering kau buat patah hatiku
Kau datang padanya tak pernah ku tahu
Kau tinggalkan aku di saat kubutuhkanmu
Cinta tak begini selama ku tau
Tetapi ku lemah karena cintaku padamu

Jika Cinta Dia
Jujurlah padaku
Tinggalkan aku disini tanpa senyuman mu

Jika Cinta Dia Ku coba mengerti
Mungkin kau bukan cinta sejati di hidupku.

Back to **

Rabu, 04 November 2009

Aku bossssiiiiiaannn

Hari ini benar2 bossseeenen..
Kerja gak produktif.

Report gak kelar2.

Selasa, 03 November 2009

Kopi oh Kopi...

2 November 2009
Tepatnya aku minum kopi lagi.

Setelah 2 tahun lama nya aku gak mencicipi minuman enak ini. hehhe...
Sewaktu kuliah aku kelewat banget minum kopinya. Dalam sehari bisa sampai 5 kali alias 5 gelas. Dan helo... Gelasnya bukan gelas yang kecil berukuran cangkir, tp berukuran mug. MUG!! hahahha.. Dan itu dilakukan sepanjang malam. Soalnya kalo tidak di sundut dengan kopi, mataku gak akan bisa melek. Yah katakanlah, aku sudah candu dengan minuman enak ini.
Nah puncaknya seteleh lulus kuliah, kepalaku sering nyut2an. Lebih parahnya kalo kepalaku sakit, dinding lah yang jadi sasarannya.

Jeduk jeduk, sekali dua kali, tiga kali empat kali. Yak lumyan rasa sakit di kepala ini berkurang akibat kalah saingan dengan sakitnya kepala dijedukin ke dinding. heheh

Setelah di periksa ke beberapa dokter dan beberapa tes, ternyata di dalam tubuhku yang indah ini (hiiieekkk hehhe) sudah banyak banget kandungan cafein nya. Dan di karenakan kurang olahraga dan kandungan kafein yang tinggi, akibatnya peredaran darah di otak ku kurang lancar.

Nah sesuai saran dokter, aku diminta mengurangi atau BERHENTI minum kopi untuk setahun lama nya. Entah kenapa aku bertekad untuk berhenti minum kopi dulu. UNTUK SEJENAK saja. hehhhe...

Tepat 2 tahun aku gak minum kopi. Tiap pagi rasanya ngiler banget ngecium bau kopi Bapak2 di kantorku. Oh Tuhan, pengen sekali aku meminum cairan itu.

Nah tepat pagi hari, pikiranku sudah suntuk. Apapun kulakukan menjadi tanpo guno. Facebook juga gak mempan. chating, lahu atau apapun sudah tidak mempan mengusir kebosananku. Memang akhir2 ini aku mulai jenuh dengan pekerjaanku.

Nah sebelumnya, bosku sudah memesan kopi dan datang dengan wangi nya yg khas. Oh God, aku tergoda sekali mencicipinya.

1 menit
2menit
3 menit
5 menit
10 menit

Yak, saya menyerah.

"Mbak, aku pesen kopi dong satu, hangat ya"
Kata2 itu akhirnya keluar juga ke salah satu OB ku di kantor.

Yes.
Tepat 5 menit setelah ucapan tadi, wangi itu ada juga di mejaku. Yeeeeeaaaa....
Seperti mendapat "sabu" baru rasanya, Tenang sekali.

Sllluuurrrpppp....
Masuk lah beberapa cc kopi itu ke mulutku.
GGGooodd rasanya nikmat sekali. Seperti mendapat sesuatu yang dulu sangat kuimpikan dan memang yyuuummmyyy sekali....

Dan Jreeettt.. NNyyyyuuttt....
Nyyyuuuttt... Nyyyyiuuuutt...

Ada bunyi2 itu di kepala kananku, kiri dan belakang.
Daan yyyeesss, kopi itu berhasil menarik urat2 di kepalaku. Dan jadilah beberapa tumbukan2 dari tanganku mendarat di kepala depan, belakang, kiri kanan.

Yes yes..
Bak buk bak buk... Adegan nya persis terjadi di depan laptop kecil putihku.

Aku mulai meneliti, kenapa cepat sekali beberapa cc minuman hitam ini berdampak ke kepalaku. Gak sampai 2 menit. Langsung bereaksi.

Ya ampun ternyata ini kopi hitam. Sangat hitam. Ya pantes lah, di tambah lagi dengan ini kopi ACEH. Yak yes.
Mantap pisan.

Akhirnya aku putar otak.

"mbak, kita punya creamer gak? aku boleh minta kopi pake creamer gak?"
"ada mbak, ia saya buatkan ya"

Oh yes, Tuhan emang baik. Dia pasti menginginkan yang terbaik untuk umatnya.

Dan tidak sampai 5 menit, wangi itu datang.

Oh no, yes...
cairan ini sangat yyuuummmyy..
Rasanya seperti bertahun-tahun tidak bertemu pacar dan memeluknya.

Oh yes, yummmyy sekali.
Dan jadilah sejak saat itu, setiap pagi kopi kreamer itu hadir di mejaku.

Seperti multivitamin.
Yes. Thanx God. hehhehe...

Kamis, 23 Juli 2009

Menumpang trend? (Duo Arsitektur Maksimalis – Rumput Gajah Mini)

Menumpang trend?
(Duo Arsitektur Maksimalis – Rumput Gajah Mini)
** Herika Indriani


“Yang ini aja, arsitektur minimalis sekarang lebih banyak dipakai orang. Lebih bagus.” Gadis kecil 14 tahun itu menunjuk ke salah satu desain rumah yang kami lewati. Rumah itu nyaris tidak menyisakan satu meter persegi pun untuk air hujan merembes ke dalam tanah. Hanya tutupan semen bercampur batu alam yang terhampar di halaman rumah.


Di jaman yang serba canggih sekarang, banyak sekali trend yang berlaku di setiap sektor tanpa tau apa penyebabnya hal itu menjadi trend sehingga banyak orang menyukai dan mengikuti trend tersebut. Contohnya saja, arsitektur minimalis. Arsitektur minimalis diperkenalkan para arsitek tahun 2000an. Desain ini diperkenalkan dengan tekstur batu alam dan bermotif senada/monokrom. Alias hanya berpadu dengan campuran hitam dan putih.

Pada awal diperkenalkannya desain ini, rasanya memang sungguh pantas, sebutan “Arsitektur Minimalis” dijunjung tinggi untuk hasil desain yang menggunakan 2 gradasi warna saja, yaitu hitam dan putih atau monokrom lainnya. Di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Medan bahkan Banda Aceh sekalipun yang sedang memperbaiki wajah kota nya sudah mempraktekkan desain ini. Namun dengan nama baru tentunya yaitu “Arsitektur Maksimalis”. Mengapa arsitektur maksimalis? Desain berdasar arsitektur minimalis tersebut sekarang sungguh beragam. Bahkan dengan kreatifitas yang maksimal, desain ini dimodifikasi sedemikian rupa dengan menggunakan warna yang bervariasi dan bahan yang beragam jenis.

Suatu ketika, sedang mengelilingi salah satu kawasan perumahan elit di Jakarta. Secara kebetulan, saya ditemani seorang gadis kecil yang sedang menginjak masa puber. “Yang ini aja, arsitektur minimalis sekarang lebih banyak dipakai orang. Lebih bagus.” Gadis kecil 14 tahun itu menunjuk ke salah satu desain rumah yang kami lewati. Tentu saja itu rumah itu berciri khas Arsitektur Minimalis dengan modifikasi di beberapa bagian nya. Kesan pertama melihat rumah itu, sungguh prihatin. Rumah itu nyaris tidak menyisakan satu meter persegi pun untuk air hujan merembes ke dalam tanah. Hanya tutupan semen bercampur batu alam yang terhampar di halaman rumah.
Beranjak beberapa rumah dari rumah prihatin itu, saya melihat rumah yang sangat asri. Trend itu berpadu dengan hijau kecil berumpun di halaman rumahnya. Dia si gajah mini. Rumput gajah mini. Si kecil hijau berumpun ini tampak subur berkembang biak dengan anak cucunya. Walaupun hanya di pekarangan 4x2 meter persegi. Perkembangan si mini ini memang sedikit lebih lambat dari jenis rumput gajah biasa. “Justru itulah yang menjadi kelebihan nya, jadi tidak perlu dipotong lagi” himbau petani rumput gajah mini selama 10 tahun lebih.

Dengan ukuran daun yang lebih kecil, sehingga dapat menyimpan biaya pada proses perawatan. Selain itu pertumbuhan si mini ini mengarah ke samping sehingga walaupun sudah bertumbuh lebat, si mini ini tetap terlihat asri. Dan tentunya lebih indah di pandang dan terasa lembut di telapak kaki. Walaupun ukuran nya yang kecil dan tumbuh menyamping, generasi baru dari rumput gajah ini lebih tahan cuaca daripada rumput golf ataupun rumpur Swiss atau Manila. “Bukan hanya tahan cuaca, si kecil ini juga lebih tahan terhadap gulma, dan dapat bertahan dari teriknya matahari 2 bulan tanpa di sirami., “Daun nya akan tumbuh kembali jika di guyur hujan sehari” ungkap petani si gajah kecil ini.

Melihat prospek “kecil – kecil jago” ini, dikaitkan dengan isu yang paling berkembang di belahan dunia manapun, yaitu Pemanasan Global / Global Warming. Banyak negara di Eropa dan Amerika, mengkhawatirkan suhu bumi yang semakin lama dapat mengakibatkan mencairnya gunung es di kutub utara. Akibat kecinya juga sering kita alami sendiri di kehidupan sehari-hari. Hari ini panas hingga tak tahan kalau tidak di ruangan ber-AC, besok atau sore harinya sudah diguyur hujan lebat. Perubahan cuaca yang ekstrim ini merupakan salah satu penyebab semakin tingginya suhu kompor bumi.

Di lihat pertumbuhan si gajah kecil tadi, yang tumbuh mengeluarkan oksigen dan menghirup karbondioksida, dapat menyerap kadar CO2 di sekitar kita sehingga dapat mengurangi kadar CO2 yang akan menambah tebalnya efek rumah kaca pada lapisan bumi. Melihat rumah asri paduan arsitektur minimalis dan si rumput kerdil itu sudah menjadi penyumbang oksigen bagi bumi walaupun hanya sebagian kecilnya saja.
Jika salah satu kawasan perumahan di Jakarta atau Medan saja bisa mempraktekkan duo ini, tentunya akan menyumbang jumlah karbondioksida dalam jumlah bisa diperhitungkan. Bagaimana jika seluruh kawasan perumahan di setiap kota besar mempraktekkan hal ini?. Sedikit beranjak ke atas, jika Penanaman rumput di setiap pekarangan rumah bisa saja menjadi salah satu aturan pemerintah dalam ijin membangun rumah.

Jika penanaman rumput ini menumpang trend dengan arsitektur maksimalis, mungkin Indonesia bisa menjadi penyumbang oksigen bagi bumi dalam jumlah yang patut di perhitungkan. Bencana banjir juga bisa di reduksi dengan bantuan si kecil ini. Dengan adanya lahan sebagai media tumbuh si kecil ini, akan membantu penyerapan air ke dalam tanah. Seringkali banjir terjadi akibat kurangnya daya serap air ke dalam tanah. Hal itu di akibatkan oleh banyaknya penghalang masuknya air tersebut. Dengan penanaman si kecil ini di berbagai lokasi perumahan, tentunya berita banjir apalagi di perumahan elit akan semakin jarang kita dengar di televisi.

Jika si rumput ini berdiri sendiri tanpa mendombleng ke trend arsitektur maksimalis, mungkin si kecil akan susah untuk berdiri sendiri. Karena dilihat dari karakteristik wong kito akan lebih suka mengikuti sesuatu yang ngetrend. Untuk itu, harapan nya para developer atau para arsitek tidak keberatan jika si kecil rumput gajah ini menumpang trend pada arsitektur maksimalis.


Rabu, 24 Juni 2009

Inspiring from Kuli tinta

Inspiring from Kuli tinta
* Herika Indriani

“Terkadang aku sampai di titik dimana aku merasa, aku belum melakukan apa-apa dalam hidupku, jenuh, kosong, hampa. Rasanya otak dan badanku hanya bergerak sesuai rencana yang kutuliskan di note-book ku. Selebihnya, belum tentu aku mengerjakan nya.

Sore itu, matahari mulai beranjak pulang, perlahan-lahan cahayanya mulai meredeup. Aku dan Erix berjalan di trotoar sepanjang jalan di Lampriet, salah satu pusat kota di Banda Aceh. Erix, salah satu pengamat politik Indonesia yang doyan berdiskusi ini menyeletuk, “Ayo sayang, kita jalan-jalan ke Museum Tsunami saja”.

Lelaki berumur 28 tahun itu memang baru seminggu menginjakkan kaki di Kota bersyariah Islam ini. Dengan perjanjian informal bersama seorang teman yang dulu pernah bergabung bersama dalam program Global Exchange dari British Council Di Inggris dan Makasar selama 6 bulan. Sebut saja namanya Mas Huzer. Begitu biasa aku memanggilnya. Mereka bertiga, salah seorang lagi, Mbak Echa, wanita 26 tahun yang doyan mengelilingi hutan Indonesia maupun luar negeri untuk melakukan berbagai penelitian, dan merupakan lulusan Kehutanan, UGM. Mereka mendapat kontrak tak resmi dengan WWF (World Wildlife Fund), tempat Mas Huzer bekerja, untuk membuat film dokumenter. Mengenai pelestarian lingkungan, sebagai salah satu program kerja dari divisi komunikasi WWF.

“Mahal sekali naik becak dari sini ke Museum Tsunami Aceh” sahut penjual gorengan ketika mendengar kami berencana menuju ke salah satu bangunan baru, berarsitektur unik, sebagai salah satu program kerja BRR.
“O ya”. Jawabku saja.
Kami memutuskan membeli Koran Kompas dulu sebelum melanjutkan perjalanan kaki kami selanjutnya.

Jalanan itu cukup ramai dengan sepeda motor yang berlalu lalang. Gedung-gedung baru di sepanjang Lampriet seolah menyapa dan menyambut keriangan dan guyonan aku dan Erix.
“Gmana kalo kita ke Bakso Sari Rasa aja babe, itu bakso nya cukup enak”. Aku yang sudah setahun lebih menetap di Aceh, pernah beberapa kali menikmati bakso di sana.

Kami cukup melanjutkan sedikit perjalanan dan menyebrang jalan, hingga akhirnya kami sampai di bangunan bertenda merah dan dengan makanan khas bakso yang berada di Jl. Lampriet, Banda Aceh. Beberapa menit kemudian, dua minuman teh botol dan dua mangkok bakso sudah tersaji di atas meja.

Kata demi kata ludes terbaca di Koran Kompas yang kami baca. Sembari melahap nikmatnya bakso, kami selingi dengan membaca Kompas. Matahari mulai meredupkan sinarnya.
“Babe, kamu tau gak, terkadang aku merasa jenuh, bosan. Rasanya aku belum melakukan apa-apa untuk dunia ini. Rasanya otak dan badanku hanya melakukan apa yang sudah kutuliskan di note-book ku. Selebihnya, belum tentu aku mengerjakannya.” Tiba-tiba aku mulai mengeluarkan keluh kesahku yang selama ini sering banget aku rasakan. Erix yang sudah terbiasa mendengar cerita dari ku menanggapi dengan santai saja.
“Memangnya kamu kenapa babe, ayo ceritalah.” Jawabnya santai.
“Kamu tau gak, ako bosan dengan semua kegiatanku selama ini, menuliskan nya terlebih dahulu di notebook dengan banyak rencana setiap hari. Yang terkadang terlaksana atau hanya di coret begitu saja, karena tidak bisa terlaksana di hari itu. Aku sebenernya capek babe. Kadang, aku berpikir, aku mau jadi apa selama hidup. Sebenarnya aku ingin melakukan sesuatu yang berarti, tapi aku tidak tau mau jadi apa. Aku ingin menikmati hidup seperti kamu yang sudah tau mau melakukan apa dalam hidup dan kamu tinggal menjalankannya saja”.

Erix hanya tersenyum mendengarkan ceritaku. Lalu mulai memberiku penjelasan, “Babe, aku mengerti kamu mulai bosan, karena kamu belum menemukan apa yang mau kamu lakukan. Aku mengerti karena selama ini kamu memiliki komunitas yang memang berbeda dengan komunitas yang aku miliki sekarang ini. Kamu pasti melihat dua sisi kehidupan yang memiliki cara berbeda dalam menikmati hidup. Di satu sisi kamu melihat komunitas yang menikmati hidup dengan menganggap materi adalah segalanya dan harus terlihat sempurna di hadapan orang lain, padahal mungkin mereka belum tentu senang melakukannya. Hanya karena supaya di anggap wajar di hadapan umum, mereka rela melakukan apa saja. Dan di sisi yang lain, kamu melihat komunitas yang memiliki gaya hidup tersendiri. Mereka menikmati hidup dengan melakukan sesuatu yang berarti, yang bertujuan membantu banyak orang, baik dari sisi politik, lingkungan maupun social. Itu jalan hidup yang mereka pilih, dan mereka sangat menikmatinya. Walaupun terkadang mereka bermasalah dengan finansial, namun itu tak menjadi halangan, dan persoalan itu terselesaikan. Mereka begitu bahagia menikmati hidup.”

Aku sedikit tertegun dengan ucapan itu. Aku mulai berpikir. Aku ingin jadi apa ke depannya nanti. Itu merupakan pilihan bagiku. Aku melihat bagaimana Erix dan teman-temannya melakukan beberapa hal yang sangat berarti bagi banyak orang. Mereka menulis tentang bagaimana kritik dan pemikiran tentang banyak hal. Politik, lingkungan, social, dan ekonomi. Apapun itu. Mereka lakukan dengan mengkritik melalui tulisan di media massa, forum dan beberapa kesempatan diskusi dengan banyak pihak. Mereka memiliki pemikiran, protes, dan mimpi tersendiri untuk mewujudkan banyak hal yang mereka anggap tidak benar di Indonesia dan di negara mana saja.

Jujur sekali aku ingin seperti mereka. Aku ingin menikmati hidup seperti cara mereka menikmatinya. Aku ingin menulis banyak hal. Tapi terkadang, aku malas dan bingung bagaimana untuk memulai menulis. Lalu aku mulai berpikir. Kenapa enggak aku mulai melihat contoh tulisan di Kompas, mungkin mereka bisa menginspirasiku menulis.

Erix mulai menjelaskan, “Kamu bisa mulai menulis tentang apa saja yang ingin kamu tulis. Kalau kamu ingin concern di dunia lingkungan, kamu bisa mulai menulis mengenai lingkungan. Nanti aku edit tulisan nya. Atau nanti kamu bisa belajar mengenai jurnalistik. Aku akan memberimu beberapa tugas di bidang jurnalistik, supaya kamu lebih rajin.”.

“Komunitasmu sebenarnya juga ada di Jogja, akan lebih susah jika kamu menetap di Medan. Kamu akan lebih melakukan banyak hal di sana.” Erix tahu aku tidak suka tinggal di Medan, karena mungkin aku sudah tidak tau banyak mengenai Medan. Selama kuliah aku menempuh waktu 4 tahun yang aku habiskan di Jogja. Di kota itu aku melakukan banyak hal. Bersenang-senang menikmati hidup. Aku tidak takut bahaya. Dan sekaligus juga aku melakukan sesuatu berarti di sana.

April ini kontrakku memang habis di Banda Aceh. Selama 13 bulan, aku bekerja untuk konsultan asing yang berklien dengan BRR dalam program Pembangunan Infrastruktur. Aku belum tau hendak kemana setelah kontrakku habis.

Kami berjalan pulang menuju kos Mas Huzer, tempat di mana Erix menginap selama beberapa hari ini di Banda Aceh. Kami sempat membeli nasi bungkus dan lele goreng, pesanan Mas Huzer untuk makan malam nya. Dalam perjalanan pulang, aku merasa mendapat semangat baru. Kenapa tidak aku mulai menulis tentang banyak hal. Menulis sesuatu yang kusuka. Banyak yang selalu menanyakan, akan jadi apa kamu ke depan nya nanti. Lalu sore itu, seperti aku mendapat jawaban, dengan menulis aku bisa mendapatkan kedamian. Aku punya sarana untuk menyampaikan semua pendapat dan pemikiranku. Walaupun memang tidak menjanjikan segelimpang materi, tapi kepuasan batin pasti aku dapatkan.

Itulah yang ada di benakku sore itu. Kuli tinta mungkin bisa menjadi penyemangat dalam hidup. Menikmati nya dengan melakukan sesuatu yang disukai, seperti Erix dan komunitasnya adalah sebuah pilihan.

Suatu saat nanti, kuli tinta mungkin bisa menjadi sejarah. Namun, itu semua tergantung usaha dan respon masyarakat terhadap mereka.




* Herika Indriani.
Lulusan Planologi UGM. Bekerja di salah satu Konsultan Asing yang berklien ke BRR di Banda Aceh.

Minggu, 26 April 2009

Studi ke Belanda, Ticket to Global Community. “Studi ke Belanda, bisa Bantu Pemerintah Indonesia nanganin banjir”




Studi ke Belanda, Ticket to Global Community
“Studi ke Belanda, bisa Bantu Pemerintah Indonesia nanganin banjir”

*Herika Indriani


Belanda. Siapa yang tidak kenal. Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun. Banyak sekali yang mereka tinggalkan di Indonesia. Dari sisi bahasa, kebudayaan, bangunan bersejarah bahkan keturunan Belanda – Indonesia yang berasal dari jaman penjajahan masih bisa ditemui di Indonesia.

Teman saya, yang mempunyai Bapak Angkat orang Belanda, dan pernah ke Belanda mengatakan, “ Di Belanda, itu bisa merasa sama seperti di Indonesia. Ada sate padang, ada kari ayam. Bahkan orang Belanda sendiri di sana menyebutkan makanan dari daging yang dipanggang dan dibumbui dengan rempah-rempah itu sebagai “sate”. Padahal nama “sate” itu adalah sebutan khas untuk orang Indonesia”.

Mungkin ada banyak kesamaan lain juga antara Indonesia dan Belanda. Saya belum pernah mengunjungi Negari Belanda. Saya sering mendengar cerita orang-orang yang pergi ke Belanda. Mereka bercerita mengenai kincir angin, bunga Tulip, roti Belanda dan yang terakhir yang menggelitik saya yaitu Keju Belanda yang enak sekali jika di minum dengan white wine. Saya pernah mencobanya. Dan memang rasanya pas sekali. Perpaduan antara rasa kelat dari Keju Belanda dan rasa pahit dan hangat dari white wine.

Namun, yang ingin sya ceritakan di sini bukan hanya mengenai lezatnya keju Belanda ataupun nikmatnya wine. Tapi masalah lain yang akhir-akhir ini saya cari, telusuri dan berusaha concern menangani permasalahan Banjir.

Akhir-akhir ini, saya concern memantau isu lingkungan di Indonesia melalui media massa baik Koran maupun Televisi. Saya melihat banyak bencana alam terjadi di Indonesia maupun di negara lain. Khususnya banjir. Banjir memang menjadi tradisi di Indonesia, khususnya di Jakta dan sekitarnya. Musibah yang cukup dahsyat terjadi di Situ Gintung, memakan banyak korban. Belum lagi banjir akibat luapan Bengawan Solo, yang menggenangi banyak daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Jika kita lihat dari sisi geografis Indonesia, terletak di garis khatulistiwa dan merupakan daerah tropis. Belum lagi tadinya Indonesia memiliki banyak hutan yang masih asri.
Coba kita bandingkan dengan Negari Belanda. Belanda merupakan negara dengan ketinggian di bawah permukaan laut. Tapi, jarang sekali saya mendengar berita di televisi, bahwa Negeri Belanda kebanjiran. Sungguh ironi ya. Saya mencoba mencari bagaimana sistem pengairan di Negeri Kincir Angin tersebut.
Saya berpikir mengapa di Indonesia tidak bisa seperti Belanda. Paling tidak dalam hal penanganan banjir. Mungkin dengan melakukan beberapa riset dan studi di Negeri Bunga Tulip itu, dapat memberi sedikit gambaran.

Selama ini, saya mendapatkan banyak hal yang menjadi penyebab terjadinya banjir di Indonesia. Ada beberapa tempat yang saya jadikan lokasi penelitian. Yang pertama di Sungai Bengawan Solo dan yang ke dua di Teluk Pusong, Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam. Mengapa saya pilih di kedua tempat itu?. Karena banjir di dua tempat tersebut memiliki sumber air yang berbeda. Yang satu berasal dari Sungai dan anak-anaknya. Sedangkan yang satunya berasal dari air pasang laut.

Dilihat dari dua tempat, saya mendapat kesimupan awal. Banjir yang terjadi akibat kurangnya daerah resapan air di sekitar sungai maupun pantai. Daerah resapan tersebut sebagian besar ditutupi oleh bangunan ataupun partikel lain yang menghambat masuknya air ke dalam tanah. Hal ini lah yang menjadi penyebab air mengalir dipermukaan tanah.

Seharusnya jika disimpulkan melalui logika, dengan Luas hutan di Indonesia yang mencapai ¾ dari luas Indonesia secara keseluruhan. Seluruh air tersebut semestinya bisa diserap seluruhnya oleh hutan. Namun yang terjadi, hutan-hutan tersebut telah habis dibabat dan dijadikan bangunan bertingkat.

Untuk itu, saya ingin sekali melihat, mempelajari dan mengambil sedikit ilmu Pemerintah Belanda dalam mengelola perairan agar tidak menimbulkan masalah. Masalah banjir.
Memang melihat masalah tidak bisa hanya dari satu sisi saja. Masalah banjir juga perlu dilihat dari sisi social. Tentu saja sangat berkaitan dengan perilaku masyarakat sekitar sungai ataupun pantai. Perilaku masyarakat di Negeri Belanda juga pasti mendukung program pemerintah dalam penanganan perairan.

Dengan keunikan budaya dan perilaku, mungkin kita bisa mencontoh perilaku mereka. Paling tidak untuk tindakan pencegahan banjir. Selain menurut saya, budaya mereka pasti unik dan khas. Senang sekali bisa belajar budaya baru dari mereka, apalagi kalo ternyata kecantol orang Belanda. Mungkin saja, atau seorang sahabat dari Negeri Kincir Angin. ^^


Senin, 23 Maret 2009

Aceh Tsunami Museum



Pasti bagi yang tinggal di Aceh, udah tau tentang keberadaan Musium Tsunami Aceh yang baru selesai di bangun awal tahun ini. Tapi musium itu belum diselesaikan sempurna. Pengunjung masih belum boleh masuk ke lantai 2 yang (katanya berisi pameran foto2 pasca tsunami Aceh Nias 2004 lalu).

Di lantai satu ada kolam yang cukup luas, dan disediakan tempat duduk bagi pengunjung yang ingin bersantai sambil menikmati angin semilir yang sejuk. Selain itu desain bangunan ini yang terbilang cukup unik juga menjadi salah satu land mark di kawasan Banda Aceh khususnya sekitaran Blang Padang. Tempat ini juga bagus dijadikan tempat bersantai di sore hari, dengan desain bangunan yang terbuka.
Jika dilihat dari luar, arsitekturnya yang terbilang unik, menghabiskan dana 60 milyar rupiah. Banyak ya?

Sebulan yang lalu, Pak SBY dan ibu meresmikan Museum ini, sekaligus Pelabuhan Ule le lhue yang baru di renovasi. Diharapkan kawasan Aceh Tsunami Museum dan Pelabuhan Ule le lhue menjadi ikon pariwisata baru di Banda Aceh, sehingga dapat mendongkrak citra Aceh sebagai kota pariwisata.

Silahkan dilihat foto2 yang udah aku publish..
Cheers ^_^















Rabu, 18 Maret 2009

....Aceh Berias Diri....




Sudah pernah jalan-jalan ke Banda Aceh ke arah pelabuhan Ule le lhue dalam waktu dekat ini? Beberapa minggu yang lalu aku bareng temenku (umara) jalan2 ke Pelabuhan Ule le lhue, ternyata pelabuhan itu banyak berubah. Sekarang, pelabuhan itu sudah dijadikan salah satu tempat wisata bagi orang2 yang berdomisili di Banda Aceh & sekitarnya.
Menurutku perencanaan nya cukup bagus, beberapa meter dari pantai dibangun tanggul untuk menahan ombak yang datang dari laut. So, pengunjung bisa bermain-main di pantai dengan aman dari ombak. Bukan itu aja, jalan yang di bangun ke area itu juga sudah diperbaiki, walaupun belum sempurna pembangunan nya, tapi paling tidak jalan menuju pelabuhan itu sudah di aspal. Begitu juga dengan pelabuhan nya sendiri, sudah di renovasi baik interior maupun eksteriornya. Sayang, aku kemaren tidak sempat masuk ke dalam pelabuhan nya. Aku cuma sempet lihat dari luar aja. hehehhee...

tapi dilihat dari pembangunan ini, bisa di bilang, Fokus pembangunan Aceh ke depan sepertinya di fokuskan ke pengembangan daerah menuju kawasan pariwisata. Menurutku, itu bagus sekali, karena memang aceh itu punya banyak potensi alam yang masih asri sekali, dan sayang kalau tidak di manfaatkan lebih maksimal (pemikiran bisnis). hehhehee..

Masih banyak tempat2 di Aceh yang masih perawan (masih belum dijamah investor/pemerintah), contohnya kawasan Sabang/Iboh yang masih belum dikenal masyarakat Indonesia karena pemandangan laut dan bawah lautnya yang bagus sekali.

Ini aku postingin beberapa foto di Pelabuhan Ule le lhue yang menurutku sudah berubah drastis (sejak aku datang 1 tahun lalu hingga sekarang). Silahkan berkunjung ke Ule le lhue untuk melepas penat sesaat.











Selasa, 03 Februari 2009

Teropong Bintang ke dua di Indonesia






Waktu itu sehabis pelatihan training selesai, aku di ajakin salah satu Staf ahli BRR: Pak Ramoni (di foto sebelah kananku) untuk melihat planetarium di daerah Lhoknga, Kab. Aceh Besar. Tempatnya cukup dekat jika ditempuh dari Banda Aceh, kira-kira 45 menit dari Kota Banda Aceh.

Pak Ramoni bercerita, "Ini planetarium terbaru ke dua di Indonesia, karena yang satunya baru ada ada di Lembang, yang sering kita kenal dengan Teropong Bintang Bosa"

Aku berpikir, apa ia benar ada bosa kedua di Aceh, lalu aku mulai bertanya layaknya wartawan ke Bapak yang cukup ramah ini.

Ternyata selama perjalanan menuju planetorium itu aku mendapat informasi kalau Bangunan Planetarium itu dibangun dengan tujuan memfasilitasi masyarakat Aceh dalam menentukan tanggal Arab yang diperhitungkan dari pergeseran bintang dan ras-ras nya, dan di fasilitasi oleh BRR.

Sebelum pembangunan kawasan itu dilaksanakan, ternyata banyak komflik yang timbul, bahkan hingga menimbulkan kerusuhan, tapi syukurlah semua masih bisa di atasi.

Kawasan itu terdiri dari 1 bangunan gedung, beberapa teropong bintang dan kawasan halaman yang luas. Menurut informasi dari PakRamoni, teropong-teropong bintang itu langsung di datangkan dari Jepang, dan merupakan teropong paling canggih dengan teknologi tinggi (dibandingkan dengan teropong bintang di Bosa) di Indonesia.

Seperti anak kecil melihat mainan baru, saya langsung takjub melihat kecanggihan alat-alat tersebut. Kita bisa melihat dengan jelas bentuk bintang yang sedang ada di langit dan mereka membenruk ras-ras bintang yang berbeda-beda setiap malam nya.

Di dalam bangunan gedung itu juga banyak menampilkan foto-foto bentuk bintang yang sedang bersinar dan bentuknya bagus sekali. Ternyata menurut ilmu astronomi, bintang juga sama seperti manusia, dia bisa lahir dan mati. Berdasarkan ciri dan bentukannya, bintang juga dikelompokkan sehingga dianggap menjadi satu ras atau satu orang tua.

Untuk kedepannya, kawasan planetorium itu akan digunakan sebagai pusat studi pengembangan pembelajaran astronomi bagi mahasiswa ataupun kalangan umum yang tertarik untuk mempelajari astronomi lebih lanjut. Kalangan umum juga diperbolehkan mengunjungi tempat ini, dengan aturan-aturan yang disusun sehingga anak kecil hingga orang dewasa dapat merasa akrab dengan dunia angkasa dan mengetahui kehidupan dunia angkasa walaupun berjarak dari bumi.

Jika dipikir-pikir, sungguh beruntung masyarakat Aceh mendapat fasilitas ini, tidak semua daerah di Indonesia yang terpilih mendapat "rejeki" seperti ini. Semoga saja "rejeki" ini bisa di manfaatkan maksimal oleh masyarakat sekitar. Mungkin dengan perawatan dan metode penggunaan bisa dikoordinir lebih simpel, sehingga masyarakat tertarik menggeluti dunia astronomi ini.

Tapi sepertinya, tidak banyak orang, khususnya di Aceh yang tidak mengetahui tempat ini, mungkin sosialisasi seperti Iklan Lokasi Hiburan, penting dilakukan untuk memberikan informasi tentang keberadaan Planetarium ini.

Sekedar informasi, Planetarium ini dekat dengan Pantai Lhoknga, jadi kalau ingin berkunjung ke daerah ini, bisa sekaligus menikmati keindahan Pantai Lhoknga, atau sebaliknya juga.

Untuk tampilan beberapa foto, bisa dilihat di blog ini....

Silahkan berkunjung ya..

Thanx to Pak Ramoni, untuk invite me.... "_"







"Suka duka memberikan bantuan ilmu ke masyarakat aceh..





"Suka duka memberikan bantuan ilmu ke masyarakat aceh..
Capacity Building, tak semudah yang kita bayangkan…."

“Apa Pak, Berubah lagi?” Erika terkaget mendengar Pak Ismet mengatakan perubahan jadwal pelatihan yang sudah berubah ke tiga kali nya. Jadwal yang sudah tersusun rapi berikut detail budget yang telah diperhitungkan matang terbuang sia-sia hanya menjadi onggokan kertas di salah satu sudut sisi kantor IREP-IPM. Tim Capacity Building (CB) IREP IPM sedang berjuang untuk menyusun proposal pengadaan training Pengadaan Barang & Jasa (Procurement) dan Pelatihan Kendali Mutu, Kendali Kontrol & Lingkungan (QC-qa & Safeguards).

Misi Bank Dunia di April 2008 menghasilkan keputusan bahwa CB IREP IPM harus menyusun proposal tahap I yaitu Capacity Building for Infrastructure Program Protection atau sering disebut Fast Track Program dengan nilai 5,95 M IRD. Oleh sebab itu seluruh anggota tim harus berkoordinasi hingga proposal tersebut selesai pada Juni 2008. Proposal tersebut berisi garis besar Pelaksanaan Pelatihan Pengadaan Barang & Jasa (Procurement) dengan target peserta 200 orang dan Pelatihan Kendali Mutu & Lingkungan (QC-qa & Safeguards) dengan target peserta 800 orang (200 untuk profesional staff dan 600 untuk sub profesional staf).

Ternyata kerja keras CB IPM mendapatkan hasil, pada Juli 2008, CB IPM mendapat kunjungan dari Representatif Bank Dunia untuk bidang Capacity Building yaitu Mr. Omer dari Washington DC. Kedatangan Pak Omer ke Banda Aceh mendukung 100% Program CB yaitu pelaksanaan training. Dukungan itu ditandai dengan disusunnya Aide Memoar berisi dukungan terhadap pelaksanaan training.

Sebenarnya jika dilihat dari TOR (Terms of Reference) Capacity Building IREP-IPM, belum menjelaskan bahwa Tim Capacity Building harus melaksanakan training untuk periode tahun 2009. Namun setelah melalui diskusi panjang antara BRR dan IREP, menyepakati bahwa Pelatihan Pengadaan Barang & Jasa dan Pelatihan Kendali Mutu, Kendali Kontrol & Lingkungan (QC-qa & Safeguards) menjadi focus utama kegiatan Capacity Building saat ini.

Focus utama pelatihan awalnya ditujukan pada PPK dan kabupaten yang terkait dengan pengelolaan pengembangan infrastruktur dari proyek IREP IRFF, namun akhirnya focus tersebut beralih ke aparat di lingkungan SKPD pemerintah. Akhirnya proposal selesai dilaksanakan tepat sebelum misi Bank Dunia pada Oktober 2008. Persiapan misi Bank Dunia dipersiapkan dengan presentasi dan laporan utama berisi persiapan pelatihan dengan harapan mendapat dukungan dari Bank Dunia dan BRR sehingga training dapat dilaksanakan sesuai jadwal.

Tindakan lanjutan dari tercetusnya Aide Memoar tersebut adalah disusunnya Kerangka Acuan Kerja / TOR (Terms if reference) dari masing-masing pelatihan dan Proposal Capacity Building for Infrastructure Protection Plan - Training Implementation Plan for NAD – Nias. Sembari penyusunan proposal, misi Bank Dunia juga hadir di Oktober 2008. Pada saat itu, CB mempunyai kesempatan untuk mempresentasikan draft proposal yang sudah disusun dengan harapan mendapat dukungan dari Bank Dunia.

Ternyata, harapan itu sia-sia, Bu Lusi selaku Team Leader CB IPM naik menuju ruangannya setelah selesai melakukan presentasi di depan utusan Bank Dunia tertunduk lemas sambil menarik nafas. Ibu dua putra itu tidak berkata apa-apa hanya diam memasuki ruangannya di lantai dua dan langsung menyambar tas mukena nya berjalan menuju kamar mandi, sembari berjalan beliau sempat berpesan ke seluruh tim, katanya,”Saya sholat dulu, habis itu kita ngobrol sebentar”.

Seluruh tim seolah-olah mengerti dengan ekspresi team leader mereka, dan hanya berbisik-bisik mencoba menganalisa keputusan dari hasil presentasi tersebut.

“Saya mau seluruh tim ini solid!!!!” Begitu kata Bu Lusi sambil sedikit manrik nafas ke seluruh tim, setelah semua anggota berkumpul. ”Saya tidak mau melihat ada yang berlari-lari terbirit-birit karena ngurusin proposal yang deadline, sementara ada yang dengan santai saja pulang jam 5 teng, seolah-olah tidak punya tanggung jawab terhadap tugas capacity building ini sendiri”. Bu Lusi sedikit emosi mengeluarkan kata-kata yang menurut beliau memang harus disampaikan ke setiap anggota tim, karena sebelumnya beliau juga sudah mendapat teguran dan masukan dari Pak Sarwar, selaku Program Director IREP yang banyak mendukung untuk pelaksanaan pelatihan ini.

Seminggu sesudah liburan lebaran usai, seluruh anggota CB adalah penghuni terakhir kantor IREP IPM hingga larut malam, hingga pukul 2 pagi, terkadang jam 11 malam, dan pernah hingga pukul 5 pagi.
“Kaki saya sampai bengkak dan harus istirahat seharian dirumah” kata Pak Ismet, salah satu tim CB. Kenapa tidak? Paling tidak setiap harinya beberapa orang di CB harus pulang sampai larut malam, mungkin paling cepat jam 9 malam.
“Itu saja sudah syukur kalo sampai jam 9 malam” sambung Erika menimpali omongan Pak Ismet.

Seluruh anggota CB bekerja keras mengedit proposal tersebut hingga akhirnya pada 7 November, proposal Training Implementation Plan” dapat di submit untuk diberikan ke Bank Dunia.

Chris Summers, adviser Deputi Infrastruktur memberi banyak masukan dan terlibat langsung dalam penyusunan proposal “Training Implementation Plan”. Dimulai dari anggaran biaya dan jadwal yang selalu berubah sesuai dengan perubahan anggaran biaya. “Pak Chris, itu semakin malam semakin semangat, kebalikan sekali dengan orang-orang pada umumnya”. Begitu kata Bu Lusi sewaktu menghabiskan setiap malam di kantor dengan beberapa anggota tim CB untuk merampungkan seluruh keperluan proposal rencana training.
Setelah terlibat perdebatan sengit antara penyusun proposal yang terkadang harus berlimbah “airmata” dan jatuh sakit, akhirnya pelatihan ditetapkan tanggal 1 Desember 2008 untuk Pelatihan Kendali Mutu bidang manager dan tanggal 15 Desember untuk Pelatihan Pengadaan Barang & Jasa. Seluruh tim harus berpencar (all out) membagi tugas untuk merekrut peserta sesuai jumlah target yang disepakati yaitu 65 orang. Begitu juga untuk pelatihan pengadaan barang dan jasa untuk angkatan pertama yaitu 105 orang. Jumlah peserta di awal masih jauh sekali dari target. Sementara tim mencari peserta, sebagian lagi mengkoordinasikan materi dan fasilitator pelatihan ke PUSBIN KPK dan BKPP Provinsi NAD & Bappenas.

Di lain pihak Bu Lusi sebagai Team Leader, juga berkoordinasi dengan PMU (Program Management Unit) dan Bank Dunia selaku tim donor. Kembali lagi, Bu Lusi harus menarik nafas dengan melihat keadaan yang ada. PMU tidak akan memberi surat persetujuan jika pihak Bank Dunia tidak lebih dahulu mengeluarkan No Objection Letter (NOL), begitu juga dengan Bank Dunia yang menunggu BRR atau PMU untuk memperbaiki Addendum yang sudah disubmit.

Ini namanya fenomena ”Ayam” dan ”Telor” dan para expat juga setuju dengan fenomena ”Chichken and Egg”. Dengan kata lain, berdasarkan rapat pleno antara Bank Dunia, PMU dan advisornya (Pak Chris), diputuskan bahwa kegiatan training (Capacity Building) IPM untuk sementara dipending sampai waktu yang tidak ditentukan. Seluruh tim sangat kecewa dan putus asa, namun bukan Bu Lusi namanya kalau tidak bisa memompa semangat anak buah nya, serta bersikeras untuk melaksanakan program CB-IPM demi saudara-saudara kita di NAD & Nias.

Setelah merekonsiliasi kegiatan CB selama satu minggu, singkat kata Team Leader CB IPM bersama Activity Program Director, Pak Greg Lee menghadap Pak Eddy Purwanto (Deputi Bidang Operasi BRR) yang notabene berkomitmen untuk membaktikan waktu dan pikirannya untuk CB IPM, untuk melapor bahwa program CB dipending untuk waktu yang tidak ditentukan. Tanpa diduga Pak Eddy langsung mengangkat telepon dan berbicara dengan Bank Dunia representative untuk MDF di Banda Aceh, Pak Lixin Gu, mempertanyakan mengapa harus dipending dan menghimbau Bank Dunia untuk mengkonsider agar program training CB IPM dilaksanakan segera. Itu juga kalau Bank Dunia memang concern terhadap kemajuan saudara-saudara kita di Aceh.

Akhirnya dengan serta merta Pak Lixin Gu hadir di BRR untuk mengatasi problem ”Chichken & Egg” tadi dengan niat baik ingin melaksanakan program training CB IPM ini dengan cara lain. Untuk itu disepakati bahwa kegiatan training akan dilaksanakan pada tanggal 15 Desember 2008. Seluruh anggota CB akhirnya bekerja keras untuk mengumpulkan jumlah peserta sesuai target yang direncanakan. Di tanggal 6 Desember, seluruh anggota CB sudah mendapat 22 orang calon peserta Pelatihan QC-qa & Safeguard. Namun, pada tanggal 7 Desember sekitar pukul 9 malam, Bu Lusi mendapat telepon dari Michael Tiwang, utusan satker BRR, bahwa pelatihan harus diundur hingga batas waktu yang tidak ditentukan dengan sebuah alasan yang kurang jelas dari Bank Dunia. Setelah berkoordinasi dengan Pak Greg Lee, tim internal akhirnya harus memutuskan untuk menunda pelatihan sampai ada kabar baru dari Bank Dunia.

Seluruh anggota bingung bagaimana harus mengatakan ke calon peserta bahwa pelatihan diundur lagi sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Dan selama itu juga tim CB masih diributkan untuk masalah administrasi oleh keuangan IPM. Akhirnya diputuskan bahwa semua kegiatan ditunda menunggu kepastian dari Bank Dunia dan PMU. Berselang sehari dari pengunduran itu, angin segar kembali berhembus. ”Pelatihan ini harus jadi sebelum tahun 2008 ini selesai” Begitu kata Pak Edi dari BRR. Setelah berkoordinasi dengan Greg Lee, selaku Project Director GHD, konsultan IREP IPM, tim CB juga gencar mencari peserta hingga mencapai target 30 orang.

Berbagai masalah administrasi termasuk pembayaran di muka uang tempat pelatihan hingga penjemputan peserta langsung ke kabupaten terdekat dijalani anggota CB demi terlaksana pelatihan ini. Pada tanggal 17 Desember 2008, acara pembukaan pelatihan QC-qa & Safeguard dilaksanakan di Training Centre Unsyiah, Banda Aceh. Acara itu berlangsung cukup lancar setelah sehari sebelumnya masih berjuang keras untuk mendatangkan utusan BRR untuk membuka acara pembukaan ini. Pak Bastian selaku Deputi Infrastruktur BRR menandatangani kontrak dengan Pak Krisna selaku utusan PUSBIN KPK sebagai penyelenggara kegiatan.

Pelatihan berjalan lancar dengan beberapa senyum dari anggota CB mengingat perjuangan hingga pelatihan ini dilaksanakan. Penutupan pelatihan pada tanggal 20 Desember juga ditutup dengan evaluasi dan kesan pesan yang positif. Pelatihan untuk kelas engineer, inspector dan Pelatihan Pengadaan barang & Jasa yang rencananya akan dilakukan Januari 2009 juga di sambut baik oleh peserta pelatihan.


Herika Indriani

(editing by CB Team)