Minggu, 26 April 2009

Studi ke Belanda, Ticket to Global Community. “Studi ke Belanda, bisa Bantu Pemerintah Indonesia nanganin banjir”




Studi ke Belanda, Ticket to Global Community
“Studi ke Belanda, bisa Bantu Pemerintah Indonesia nanganin banjir”

*Herika Indriani


Belanda. Siapa yang tidak kenal. Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun. Banyak sekali yang mereka tinggalkan di Indonesia. Dari sisi bahasa, kebudayaan, bangunan bersejarah bahkan keturunan Belanda – Indonesia yang berasal dari jaman penjajahan masih bisa ditemui di Indonesia.

Teman saya, yang mempunyai Bapak Angkat orang Belanda, dan pernah ke Belanda mengatakan, “ Di Belanda, itu bisa merasa sama seperti di Indonesia. Ada sate padang, ada kari ayam. Bahkan orang Belanda sendiri di sana menyebutkan makanan dari daging yang dipanggang dan dibumbui dengan rempah-rempah itu sebagai “sate”. Padahal nama “sate” itu adalah sebutan khas untuk orang Indonesia”.

Mungkin ada banyak kesamaan lain juga antara Indonesia dan Belanda. Saya belum pernah mengunjungi Negari Belanda. Saya sering mendengar cerita orang-orang yang pergi ke Belanda. Mereka bercerita mengenai kincir angin, bunga Tulip, roti Belanda dan yang terakhir yang menggelitik saya yaitu Keju Belanda yang enak sekali jika di minum dengan white wine. Saya pernah mencobanya. Dan memang rasanya pas sekali. Perpaduan antara rasa kelat dari Keju Belanda dan rasa pahit dan hangat dari white wine.

Namun, yang ingin sya ceritakan di sini bukan hanya mengenai lezatnya keju Belanda ataupun nikmatnya wine. Tapi masalah lain yang akhir-akhir ini saya cari, telusuri dan berusaha concern menangani permasalahan Banjir.

Akhir-akhir ini, saya concern memantau isu lingkungan di Indonesia melalui media massa baik Koran maupun Televisi. Saya melihat banyak bencana alam terjadi di Indonesia maupun di negara lain. Khususnya banjir. Banjir memang menjadi tradisi di Indonesia, khususnya di Jakta dan sekitarnya. Musibah yang cukup dahsyat terjadi di Situ Gintung, memakan banyak korban. Belum lagi banjir akibat luapan Bengawan Solo, yang menggenangi banyak daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Jika kita lihat dari sisi geografis Indonesia, terletak di garis khatulistiwa dan merupakan daerah tropis. Belum lagi tadinya Indonesia memiliki banyak hutan yang masih asri.
Coba kita bandingkan dengan Negari Belanda. Belanda merupakan negara dengan ketinggian di bawah permukaan laut. Tapi, jarang sekali saya mendengar berita di televisi, bahwa Negeri Belanda kebanjiran. Sungguh ironi ya. Saya mencoba mencari bagaimana sistem pengairan di Negeri Kincir Angin tersebut.
Saya berpikir mengapa di Indonesia tidak bisa seperti Belanda. Paling tidak dalam hal penanganan banjir. Mungkin dengan melakukan beberapa riset dan studi di Negeri Bunga Tulip itu, dapat memberi sedikit gambaran.

Selama ini, saya mendapatkan banyak hal yang menjadi penyebab terjadinya banjir di Indonesia. Ada beberapa tempat yang saya jadikan lokasi penelitian. Yang pertama di Sungai Bengawan Solo dan yang ke dua di Teluk Pusong, Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam. Mengapa saya pilih di kedua tempat itu?. Karena banjir di dua tempat tersebut memiliki sumber air yang berbeda. Yang satu berasal dari Sungai dan anak-anaknya. Sedangkan yang satunya berasal dari air pasang laut.

Dilihat dari dua tempat, saya mendapat kesimupan awal. Banjir yang terjadi akibat kurangnya daerah resapan air di sekitar sungai maupun pantai. Daerah resapan tersebut sebagian besar ditutupi oleh bangunan ataupun partikel lain yang menghambat masuknya air ke dalam tanah. Hal ini lah yang menjadi penyebab air mengalir dipermukaan tanah.

Seharusnya jika disimpulkan melalui logika, dengan Luas hutan di Indonesia yang mencapai ¾ dari luas Indonesia secara keseluruhan. Seluruh air tersebut semestinya bisa diserap seluruhnya oleh hutan. Namun yang terjadi, hutan-hutan tersebut telah habis dibabat dan dijadikan bangunan bertingkat.

Untuk itu, saya ingin sekali melihat, mempelajari dan mengambil sedikit ilmu Pemerintah Belanda dalam mengelola perairan agar tidak menimbulkan masalah. Masalah banjir.
Memang melihat masalah tidak bisa hanya dari satu sisi saja. Masalah banjir juga perlu dilihat dari sisi social. Tentu saja sangat berkaitan dengan perilaku masyarakat sekitar sungai ataupun pantai. Perilaku masyarakat di Negeri Belanda juga pasti mendukung program pemerintah dalam penanganan perairan.

Dengan keunikan budaya dan perilaku, mungkin kita bisa mencontoh perilaku mereka. Paling tidak untuk tindakan pencegahan banjir. Selain menurut saya, budaya mereka pasti unik dan khas. Senang sekali bisa belajar budaya baru dari mereka, apalagi kalo ternyata kecantol orang Belanda. Mungkin saja, atau seorang sahabat dari Negeri Kincir Angin. ^^


Tidak ada komentar: