Minggu, 25 April 2010

Aku jenuh

Banyak masalah dalam hidupku.
Kata orang-orang, aku harus bersyukur. Banyak orang ingin berada di posisiku.
Sementara aku..
Aku disini, tiada berdaya, mengikuti arus.
Aku disini bosan menghabiskan waktu yang tak kunjung usai.

Aku menjalani hari-hari tanpa tau esok harus berbuat apa.
Aku menjalani hari-hari tanpa ada rencana dan tujuan untuk apa aku melakukan hal ini sekarang, untuk apa aku mengerjakan tugas ini.

Aku disini tanpa pegangan, hilang control..
Kalau saja aku masih bisa memilih, aku ingin lepas bebas.
Aku ingin jauh pergi.
Pergi ke suatu tempat dimana tak ada seorang pun yang mengenalku.

Aku disini hendak berteriak.
Aku tak punya jiwa untuk mengerjakan ini.
Rincian pekerjaan di depanku, aku tak tau kenapa tak ada takut ku jika tidak mengerjakan semua rincian itu.
Aku gak mengerti kenapa harus aku mengerjakan semua rincian itu.

Dia seperti alarm mati yang tergantung setiap hari.
Hanya dilihat lalu di biarkan.
Kasihan juga dia.

Buka tutup dokumen pekerjaan bukan hal baru lagi.
Sudah hampir 3 minggu dia hanya bertambah beberapa kb.
Sungguh, aku gak ngerti apa yang aku lakukan sekarang.

Aku tau, aku dalam masalah besar sekarang.
Pekerjaanku sekarang tidak kusenangi, aku tak ingin bertemu dengan orang-orang seperti itu, tapi seperti merekalah yang akan ku temui dan ku temani setiap harinya.
Kalau boleh pakai kata yang jujur: AKU MUAK!!!

Siapa lagi yang akan jadi teman tertawaku setiap hari nantinya.
Siapa lagi yang bisa membuatku ngakak sampai perut sakit.
Aku merindukan kalian teman-temanku.

Kamis, 18 Maret 2010

I love you till the end

19 March 10, 2.32 am on my computer

Aku gak bisa tidur malam ini, sebenernya bisa tidur, tapi aku pengen menghukum badan ku sndri. Ia, boldline that, i want to give punishment to my self.

Minggu2 yang lalu, aku kebanyakan tidak produktif. Mataku menatap layar komputer, membuka folder ini, folder itu, tetep ada window yang membuka file kerjaan ku. tapi gak ada yang berubah, walaupun sudah 3 jam terbuka. aku malah asik membuka file ini, file itu. mengenang memori ini, memori itu.

Jadi beberapa hari terakhir ini, aku ingin menghukum diriku sendiri. Aku tidak boleh tidur terlalu lama, karena long weekend kemaren aku sudah tidur sepanjang hari dan tidak menghasilkan apapun. aku menyebutnya "Tanpo Guno all day long". Fiiuuhh.

Sekarang, sepertinya aku kembali terbuai dengan perasaanku sndri. aku ingin sekali mendengarkan lagu "I love you till the end", soundtrack movie: PS. I love you.
I really love that film. A sad movie but with romantic side. I wonder if i can have a love like Gerry. I love you till the end.

Aku berhasil merekam2 lirik di lagu itu, walaupun tidak seluruhnya.
Sekarang aku akan menyanyikannya. I love you till the end..

I just want to see you, when youre alone
I just want to catch you if I can
I just want to be there when the morning light exploudes
On your face it radiates, I cant escape,
I love you till the end

I just want to tell you, nothing you don’t want to hear
All I want if I you to say
Why don’t you just take me where I never been before
**missing lyrics.. ^^


I love you till the end
I love you till the end
I love you till the end

Enjoy that song.. ^^

Senin, 18 Januari 2010

Aku bingung menulis apa.

Rasanya sudah lama aku tidak menulis di blog ini.
Aku lupa tepatnya kapan. Kadang aku mengintip sebentar, lalu mengopikan lirik lagu yang sedang aku senangi waktu itu.
Sebenernya aku tidak punya bakat menulis, tapi entah kenapa dengan menulis, aku bisa menuangkan seluruh perasaan emosi, seneng, sedih. Mungkin cuma layar komputer dan keyboard ini yang setia menampung keluh kesahku setiap hari.

Beberapa bulan terakhir, aku benar-benar di sibukkan dengan beberapa pekerjaan di kantor. Kantorku cukup pintar dalam memilih strategi kerja, atau lebih tepatnya cerdas. Cerdas berbeda tipis dengan licik. Kalau dilihat secara job description, seseorang itu hanya bekerja untuk satu divisi. begitu juga dengan saya. Di saat interview, saya di minta untuk membantu satu divisi saja. Tapi ternyata setelah saya masuk dan menandatangani kontrak, saya di minta membantu satu divisi lagi. OMG, saya sedikit kewalahan sewaktu di awal. Dan semakin kewalahan di saat akhir. Yang lebih pintar nya lagi. Kontrak untuk beberapa karyawan diperpanjang per 3 bulan sekali, jadi yang ada di pikiran saya waktu itu, untuk apa meminta Rest & Relax (istirahat mendapat tiket Pulang-Pergi daerah asal selama 3 bulan sekali). Karena kontrak saya hanya 3 bulan, saya pikir untuk apa meminta pengajuan R&R? tapi ternyata kontrak saya di perpanjang trus. Dan untuk memperjuangkan nya lagi, saya sedikit malas berurusan dengan tim management administrasi yang berbelit-belit.

Di saat-saat akhir seperti sekarang, saya sedikit kewalahan. Atau mungkin terlalu kewalahan. Kadang saya bingung untuk memulai bagian mana dulu. Ada penambahan tenaga kerja 1 orang. Cukup membantu untuk pekerjaan laporan 1 divisi. Tapi untuk pekerjaan monitoring, tetap saya yang harus campur tangan, di tambah lagi dengan Laporan Akhir untuk divisi tersebut.

Karena sudah terlanjur membantu pekerjaan teman, saya ikut membantu sebuah rencana di sebuah kota. Cukup menyita waktu juga. Apalagi jika tigas itu harus selesai berbarengan dengan tugas kantor saya yang harus selesai dalam waktu yang sama.
Pernah, saya sampai tidak tau harus menulis apa, karena di otak saya rasanya sudah berkeliaran semua bahan, tapi saya bingung hendak menulis apa. Dan memulai yang mana terlebih dahulu. Sering saya membutuhkan pemanasan otak 1 hari penuh untuk kembali normal bisa mengeluarkan ide-ide dalam satu pekerjaan.

Memang kebanyakan pekerjaan saya membutuhkan ide-ide yang radikal, bukan khayalan. Saya dianggap sebagai planner untuk pengembangan kota dari salah satu universitas ternama di Indonesia. Jujur saja, itu bukan beban yang ringan. Kalau saya sembarangan dalam mengeluarkan ide, yang akan di cap jelek dan lebh di ingat orang adalah nama Universitas yang sudah meluluskan saya. Atau mungkin saya sedikit berlebihan. Tapi itu kenyataan.

Sekarang ini, saya sedang berusaha membentuk sebuah komunitas lingkungan. Nama nya GreenToast. Kata pacar saya, nama itu terlalu kebarat-baratan. Tapi saya suka dengan nama itu. Lebih mengacu kepada gaya hidup untuk tetap hijau. Saya juga tidak tau sejak kapan saya suka berbicara atau mencari tau tentang lingkungan. Tapi entah kenapa saya suka prihatin melihat keadaan Indonesia ataupun dunia jika ada bencana alam terjadi, seperti banjir, gempa, longsor atau bencana lainnya.

Kalau ada yang menjawab, "Itu kan ujian dari Tuhan". Saya langsung bersorak. Bukan.
Di dalam pemikiran saya, bencana itu jangan di lihat dari sisi agama. menurut agama saya, hubungan dengan Tuhan itu bersifat personal, bukan majemuk. Saya melihat bencana terjadi pasti bersumber dari satu masalah. Mungkin ada beberapa bencana yang tidak bisa kita prediksi. Seperti pergeseran lempeng bumi yang mengakibatkan gempa atau tsunami.

Tapi kebanyakan bencana alam yang terjadi merupakan ulah dari diri kita sendiri. Seperti banjir akibat air yang tidak mengalir karena tersumbat oleh sampah. Sampah itu berasal dari diri kita sendiri. Cuaca tidak menentu karena lapisan ozon bumi yang semakin menipis akibat pemanasan global dari kegiatan industri atau kegiatan lainnya yang mengeluarkan CO2 ke udara sehingga semakin menambah panas bumi. Itu semua ulah kita.

Sekarang ini, semakin banyak komunitas-komunitas lingkungan yang masing-masing membentuk visi dan misi namun tetap pada satu tujuan untuk melestarikan lingkungan hijau di sekitar kita. Mungkin saya dan beberapa teman lainnya nanti akan menjadi salah satu dari komunitas itu.

Saya juga senang traveling ke berbagai tempat, berjalan kaki itu favorit saya. Walaupun saya tidak bisa berjalan cepat, tapi saya suka berjalan kaki menikmati pemandangan di sekeliling, walaupun saya sudah sering melewati nya dengan menggunakan kendaraan. Tapi rasanya dengan berjalan kaki lebih bisa menikmati suasana di bandingkan menggunakan kendaraan.

Saya suka film. Saya suka musik. Bekerja tanpa mendengarkan musik rasanya hampa.

Dari semua hal yang menyita waktu, rasanya saya mampu melakukan semua kegiatan di atas. tapi ternyata otak saya punya kapasitas tertentu. Kalau di runut berdasarkan wkatu, saya bisa saja membagi waktu untuk melakukan aktivitas di atas. Tapi ternyata, otak saya tidak mampu di balik-balik kan sesuka hati.

Kalau sudah menjelang malam, jika seharian saya berkutat di kantor, terkadang saya tak mampu lagi bekerja pada malam hari, walaupun itu dilakukan di rumah, karena bisa di barengi istirahat sejenak. Tapi ternyata tidak bisa. Saya menyerah untuk melakukan semua nya sekaligus.

Jadi saya melakukan berdasarkan deadline. Dan kalian pasti pernah dengar kata "The idea will come on kepepet time". Ya ia, di saat kepepet ide saya datang bermunculan walupun badan sudah sangat lelah. Atau ada yang namanya "Power of Kepepet". Jika waktu nya sudah harus mengumpulkn tugas, seluruh tenaga rasanya tidak ada habis nya. Tapi setelah semua nya selesai, baru kerasa capek di setiap tulang-tulang badan.

Mungkin setiap orang juga pernah merasakan apa yang saya rasakan. Begitu juga, saya yakin masih banyak orang di luar sana yang memiliki segudang aktifitas, berharap 1 hari =48 jam. Tapi, tenang saja, selama kita mengatakan, saya masih punya waktu untuk beristirahat, bersenang-seneng dan berjalan-jalan walaupun pekerjaan tidak akan ada habisnya, Saya yakin semua masih bisa di nikmati. Selama keyakinan itu masih ada.

Percayalah pada saya.

Cheers.

Minggu, 08 November 2009

Somebody's me - Enrique Iglesias

You, do you remember me?
Like, I remember you
Do you spend your life, going back in your mind to that time?
'Cause I, I walk the streets alone
I hate being on my own
And everyone can see that, I really fell
And I'm going through hell
Thinking about you with somebody else

[Chorus:]
Somebody wants you, somebody needs you
Somebody dreams about you every single night
Somebody can't breathe, without you it's lonely
Somebody hopes that one day you will see
That somebody's me
That somebody's me
Yeah...

How, how did we go wrong?
It was so good, and now it's gone
And I pray at night, that our passing will cross
What we hide isn't lost
'Cause you are always driving in my thoughts...

[Chorus]

You will always be in my life, even if I'm not in your life
'Cause you're in my memory
You, will you remember me?
And before you set me free, oh listen please...

[Chorus]

That somebody's me
That somebody's me
---

Kamis, 05 November 2009

Jika Cinta Dia - Geisha

Terlampau sering kau buang air mataku
Tak pernah kau tau dalamnya rasa cintaku
Tak banyak inginku, jangan kau ulangi
Menyakiti aku sesuka kelakuanmu

Kubukan manusia yang tidak berpikir,
Berulang kali kau lakukan itu padaku

**
Jika Cinta Dia
Jujurlah padaku
Tinggalkan aku disini tanpa senyuman mu

Jika Cinta Dia Ku coba mengerti..

Teramat sering kau buat patah hatiku
Kau datang padanya tak pernah ku tahu
Kau tinggalkan aku di saat kubutuhkanmu
Cinta tak begini selama ku tau
Tetapi ku lemah karena cintaku padamu

Jika Cinta Dia
Jujurlah padaku
Tinggalkan aku disini tanpa senyuman mu

Jika Cinta Dia Ku coba mengerti
Mungkin kau bukan cinta sejati di hidupku.

Back to **

Rabu, 04 November 2009

Aku bossssiiiiiaannn

Hari ini benar2 bossseeenen..
Kerja gak produktif.

Report gak kelar2.

Selasa, 03 November 2009

Kopi oh Kopi...

2 November 2009
Tepatnya aku minum kopi lagi.

Setelah 2 tahun lama nya aku gak mencicipi minuman enak ini. hehhe...
Sewaktu kuliah aku kelewat banget minum kopinya. Dalam sehari bisa sampai 5 kali alias 5 gelas. Dan helo... Gelasnya bukan gelas yang kecil berukuran cangkir, tp berukuran mug. MUG!! hahahha.. Dan itu dilakukan sepanjang malam. Soalnya kalo tidak di sundut dengan kopi, mataku gak akan bisa melek. Yah katakanlah, aku sudah candu dengan minuman enak ini.
Nah puncaknya seteleh lulus kuliah, kepalaku sering nyut2an. Lebih parahnya kalo kepalaku sakit, dinding lah yang jadi sasarannya.

Jeduk jeduk, sekali dua kali, tiga kali empat kali. Yak lumyan rasa sakit di kepala ini berkurang akibat kalah saingan dengan sakitnya kepala dijedukin ke dinding. heheh

Setelah di periksa ke beberapa dokter dan beberapa tes, ternyata di dalam tubuhku yang indah ini (hiiieekkk hehhe) sudah banyak banget kandungan cafein nya. Dan di karenakan kurang olahraga dan kandungan kafein yang tinggi, akibatnya peredaran darah di otak ku kurang lancar.

Nah sesuai saran dokter, aku diminta mengurangi atau BERHENTI minum kopi untuk setahun lama nya. Entah kenapa aku bertekad untuk berhenti minum kopi dulu. UNTUK SEJENAK saja. hehhhe...

Tepat 2 tahun aku gak minum kopi. Tiap pagi rasanya ngiler banget ngecium bau kopi Bapak2 di kantorku. Oh Tuhan, pengen sekali aku meminum cairan itu.

Nah tepat pagi hari, pikiranku sudah suntuk. Apapun kulakukan menjadi tanpo guno. Facebook juga gak mempan. chating, lahu atau apapun sudah tidak mempan mengusir kebosananku. Memang akhir2 ini aku mulai jenuh dengan pekerjaanku.

Nah sebelumnya, bosku sudah memesan kopi dan datang dengan wangi nya yg khas. Oh God, aku tergoda sekali mencicipinya.

1 menit
2menit
3 menit
5 menit
10 menit

Yak, saya menyerah.

"Mbak, aku pesen kopi dong satu, hangat ya"
Kata2 itu akhirnya keluar juga ke salah satu OB ku di kantor.

Yes.
Tepat 5 menit setelah ucapan tadi, wangi itu ada juga di mejaku. Yeeeeeaaaa....
Seperti mendapat "sabu" baru rasanya, Tenang sekali.

Sllluuurrrpppp....
Masuk lah beberapa cc kopi itu ke mulutku.
GGGooodd rasanya nikmat sekali. Seperti mendapat sesuatu yang dulu sangat kuimpikan dan memang yyuuummmyyy sekali....

Dan Jreeettt.. NNyyyyuuttt....
Nyyyuuuttt... Nyyyyiuuuutt...

Ada bunyi2 itu di kepala kananku, kiri dan belakang.
Daan yyyeesss, kopi itu berhasil menarik urat2 di kepalaku. Dan jadilah beberapa tumbukan2 dari tanganku mendarat di kepala depan, belakang, kiri kanan.

Yes yes..
Bak buk bak buk... Adegan nya persis terjadi di depan laptop kecil putihku.

Aku mulai meneliti, kenapa cepat sekali beberapa cc minuman hitam ini berdampak ke kepalaku. Gak sampai 2 menit. Langsung bereaksi.

Ya ampun ternyata ini kopi hitam. Sangat hitam. Ya pantes lah, di tambah lagi dengan ini kopi ACEH. Yak yes.
Mantap pisan.

Akhirnya aku putar otak.

"mbak, kita punya creamer gak? aku boleh minta kopi pake creamer gak?"
"ada mbak, ia saya buatkan ya"

Oh yes, Tuhan emang baik. Dia pasti menginginkan yang terbaik untuk umatnya.

Dan tidak sampai 5 menit, wangi itu datang.

Oh no, yes...
cairan ini sangat yyuuummmyy..
Rasanya seperti bertahun-tahun tidak bertemu pacar dan memeluknya.

Oh yes, yummmyy sekali.
Dan jadilah sejak saat itu, setiap pagi kopi kreamer itu hadir di mejaku.

Seperti multivitamin.
Yes. Thanx God. hehhehe...

Kamis, 23 Juli 2009

Menumpang trend? (Duo Arsitektur Maksimalis – Rumput Gajah Mini)

Menumpang trend?
(Duo Arsitektur Maksimalis – Rumput Gajah Mini)
** Herika Indriani


“Yang ini aja, arsitektur minimalis sekarang lebih banyak dipakai orang. Lebih bagus.” Gadis kecil 14 tahun itu menunjuk ke salah satu desain rumah yang kami lewati. Rumah itu nyaris tidak menyisakan satu meter persegi pun untuk air hujan merembes ke dalam tanah. Hanya tutupan semen bercampur batu alam yang terhampar di halaman rumah.


Di jaman yang serba canggih sekarang, banyak sekali trend yang berlaku di setiap sektor tanpa tau apa penyebabnya hal itu menjadi trend sehingga banyak orang menyukai dan mengikuti trend tersebut. Contohnya saja, arsitektur minimalis. Arsitektur minimalis diperkenalkan para arsitek tahun 2000an. Desain ini diperkenalkan dengan tekstur batu alam dan bermotif senada/monokrom. Alias hanya berpadu dengan campuran hitam dan putih.

Pada awal diperkenalkannya desain ini, rasanya memang sungguh pantas, sebutan “Arsitektur Minimalis” dijunjung tinggi untuk hasil desain yang menggunakan 2 gradasi warna saja, yaitu hitam dan putih atau monokrom lainnya. Di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Medan bahkan Banda Aceh sekalipun yang sedang memperbaiki wajah kota nya sudah mempraktekkan desain ini. Namun dengan nama baru tentunya yaitu “Arsitektur Maksimalis”. Mengapa arsitektur maksimalis? Desain berdasar arsitektur minimalis tersebut sekarang sungguh beragam. Bahkan dengan kreatifitas yang maksimal, desain ini dimodifikasi sedemikian rupa dengan menggunakan warna yang bervariasi dan bahan yang beragam jenis.

Suatu ketika, sedang mengelilingi salah satu kawasan perumahan elit di Jakarta. Secara kebetulan, saya ditemani seorang gadis kecil yang sedang menginjak masa puber. “Yang ini aja, arsitektur minimalis sekarang lebih banyak dipakai orang. Lebih bagus.” Gadis kecil 14 tahun itu menunjuk ke salah satu desain rumah yang kami lewati. Tentu saja itu rumah itu berciri khas Arsitektur Minimalis dengan modifikasi di beberapa bagian nya. Kesan pertama melihat rumah itu, sungguh prihatin. Rumah itu nyaris tidak menyisakan satu meter persegi pun untuk air hujan merembes ke dalam tanah. Hanya tutupan semen bercampur batu alam yang terhampar di halaman rumah.
Beranjak beberapa rumah dari rumah prihatin itu, saya melihat rumah yang sangat asri. Trend itu berpadu dengan hijau kecil berumpun di halaman rumahnya. Dia si gajah mini. Rumput gajah mini. Si kecil hijau berumpun ini tampak subur berkembang biak dengan anak cucunya. Walaupun hanya di pekarangan 4x2 meter persegi. Perkembangan si mini ini memang sedikit lebih lambat dari jenis rumput gajah biasa. “Justru itulah yang menjadi kelebihan nya, jadi tidak perlu dipotong lagi” himbau petani rumput gajah mini selama 10 tahun lebih.

Dengan ukuran daun yang lebih kecil, sehingga dapat menyimpan biaya pada proses perawatan. Selain itu pertumbuhan si mini ini mengarah ke samping sehingga walaupun sudah bertumbuh lebat, si mini ini tetap terlihat asri. Dan tentunya lebih indah di pandang dan terasa lembut di telapak kaki. Walaupun ukuran nya yang kecil dan tumbuh menyamping, generasi baru dari rumput gajah ini lebih tahan cuaca daripada rumput golf ataupun rumpur Swiss atau Manila. “Bukan hanya tahan cuaca, si kecil ini juga lebih tahan terhadap gulma, dan dapat bertahan dari teriknya matahari 2 bulan tanpa di sirami., “Daun nya akan tumbuh kembali jika di guyur hujan sehari” ungkap petani si gajah kecil ini.

Melihat prospek “kecil – kecil jago” ini, dikaitkan dengan isu yang paling berkembang di belahan dunia manapun, yaitu Pemanasan Global / Global Warming. Banyak negara di Eropa dan Amerika, mengkhawatirkan suhu bumi yang semakin lama dapat mengakibatkan mencairnya gunung es di kutub utara. Akibat kecinya juga sering kita alami sendiri di kehidupan sehari-hari. Hari ini panas hingga tak tahan kalau tidak di ruangan ber-AC, besok atau sore harinya sudah diguyur hujan lebat. Perubahan cuaca yang ekstrim ini merupakan salah satu penyebab semakin tingginya suhu kompor bumi.

Di lihat pertumbuhan si gajah kecil tadi, yang tumbuh mengeluarkan oksigen dan menghirup karbondioksida, dapat menyerap kadar CO2 di sekitar kita sehingga dapat mengurangi kadar CO2 yang akan menambah tebalnya efek rumah kaca pada lapisan bumi. Melihat rumah asri paduan arsitektur minimalis dan si rumput kerdil itu sudah menjadi penyumbang oksigen bagi bumi walaupun hanya sebagian kecilnya saja.
Jika salah satu kawasan perumahan di Jakarta atau Medan saja bisa mempraktekkan duo ini, tentunya akan menyumbang jumlah karbondioksida dalam jumlah bisa diperhitungkan. Bagaimana jika seluruh kawasan perumahan di setiap kota besar mempraktekkan hal ini?. Sedikit beranjak ke atas, jika Penanaman rumput di setiap pekarangan rumah bisa saja menjadi salah satu aturan pemerintah dalam ijin membangun rumah.

Jika penanaman rumput ini menumpang trend dengan arsitektur maksimalis, mungkin Indonesia bisa menjadi penyumbang oksigen bagi bumi dalam jumlah yang patut di perhitungkan. Bencana banjir juga bisa di reduksi dengan bantuan si kecil ini. Dengan adanya lahan sebagai media tumbuh si kecil ini, akan membantu penyerapan air ke dalam tanah. Seringkali banjir terjadi akibat kurangnya daya serap air ke dalam tanah. Hal itu di akibatkan oleh banyaknya penghalang masuknya air tersebut. Dengan penanaman si kecil ini di berbagai lokasi perumahan, tentunya berita banjir apalagi di perumahan elit akan semakin jarang kita dengar di televisi.

Jika si rumput ini berdiri sendiri tanpa mendombleng ke trend arsitektur maksimalis, mungkin si kecil akan susah untuk berdiri sendiri. Karena dilihat dari karakteristik wong kito akan lebih suka mengikuti sesuatu yang ngetrend. Untuk itu, harapan nya para developer atau para arsitek tidak keberatan jika si kecil rumput gajah ini menumpang trend pada arsitektur maksimalis.


Rabu, 24 Juni 2009

Inspiring from Kuli tinta

Inspiring from Kuli tinta
* Herika Indriani

“Terkadang aku sampai di titik dimana aku merasa, aku belum melakukan apa-apa dalam hidupku, jenuh, kosong, hampa. Rasanya otak dan badanku hanya bergerak sesuai rencana yang kutuliskan di note-book ku. Selebihnya, belum tentu aku mengerjakan nya.

Sore itu, matahari mulai beranjak pulang, perlahan-lahan cahayanya mulai meredeup. Aku dan Erix berjalan di trotoar sepanjang jalan di Lampriet, salah satu pusat kota di Banda Aceh. Erix, salah satu pengamat politik Indonesia yang doyan berdiskusi ini menyeletuk, “Ayo sayang, kita jalan-jalan ke Museum Tsunami saja”.

Lelaki berumur 28 tahun itu memang baru seminggu menginjakkan kaki di Kota bersyariah Islam ini. Dengan perjanjian informal bersama seorang teman yang dulu pernah bergabung bersama dalam program Global Exchange dari British Council Di Inggris dan Makasar selama 6 bulan. Sebut saja namanya Mas Huzer. Begitu biasa aku memanggilnya. Mereka bertiga, salah seorang lagi, Mbak Echa, wanita 26 tahun yang doyan mengelilingi hutan Indonesia maupun luar negeri untuk melakukan berbagai penelitian, dan merupakan lulusan Kehutanan, UGM. Mereka mendapat kontrak tak resmi dengan WWF (World Wildlife Fund), tempat Mas Huzer bekerja, untuk membuat film dokumenter. Mengenai pelestarian lingkungan, sebagai salah satu program kerja dari divisi komunikasi WWF.

“Mahal sekali naik becak dari sini ke Museum Tsunami Aceh” sahut penjual gorengan ketika mendengar kami berencana menuju ke salah satu bangunan baru, berarsitektur unik, sebagai salah satu program kerja BRR.
“O ya”. Jawabku saja.
Kami memutuskan membeli Koran Kompas dulu sebelum melanjutkan perjalanan kaki kami selanjutnya.

Jalanan itu cukup ramai dengan sepeda motor yang berlalu lalang. Gedung-gedung baru di sepanjang Lampriet seolah menyapa dan menyambut keriangan dan guyonan aku dan Erix.
“Gmana kalo kita ke Bakso Sari Rasa aja babe, itu bakso nya cukup enak”. Aku yang sudah setahun lebih menetap di Aceh, pernah beberapa kali menikmati bakso di sana.

Kami cukup melanjutkan sedikit perjalanan dan menyebrang jalan, hingga akhirnya kami sampai di bangunan bertenda merah dan dengan makanan khas bakso yang berada di Jl. Lampriet, Banda Aceh. Beberapa menit kemudian, dua minuman teh botol dan dua mangkok bakso sudah tersaji di atas meja.

Kata demi kata ludes terbaca di Koran Kompas yang kami baca. Sembari melahap nikmatnya bakso, kami selingi dengan membaca Kompas. Matahari mulai meredupkan sinarnya.
“Babe, kamu tau gak, terkadang aku merasa jenuh, bosan. Rasanya aku belum melakukan apa-apa untuk dunia ini. Rasanya otak dan badanku hanya melakukan apa yang sudah kutuliskan di note-book ku. Selebihnya, belum tentu aku mengerjakannya.” Tiba-tiba aku mulai mengeluarkan keluh kesahku yang selama ini sering banget aku rasakan. Erix yang sudah terbiasa mendengar cerita dari ku menanggapi dengan santai saja.
“Memangnya kamu kenapa babe, ayo ceritalah.” Jawabnya santai.
“Kamu tau gak, ako bosan dengan semua kegiatanku selama ini, menuliskan nya terlebih dahulu di notebook dengan banyak rencana setiap hari. Yang terkadang terlaksana atau hanya di coret begitu saja, karena tidak bisa terlaksana di hari itu. Aku sebenernya capek babe. Kadang, aku berpikir, aku mau jadi apa selama hidup. Sebenarnya aku ingin melakukan sesuatu yang berarti, tapi aku tidak tau mau jadi apa. Aku ingin menikmati hidup seperti kamu yang sudah tau mau melakukan apa dalam hidup dan kamu tinggal menjalankannya saja”.

Erix hanya tersenyum mendengarkan ceritaku. Lalu mulai memberiku penjelasan, “Babe, aku mengerti kamu mulai bosan, karena kamu belum menemukan apa yang mau kamu lakukan. Aku mengerti karena selama ini kamu memiliki komunitas yang memang berbeda dengan komunitas yang aku miliki sekarang ini. Kamu pasti melihat dua sisi kehidupan yang memiliki cara berbeda dalam menikmati hidup. Di satu sisi kamu melihat komunitas yang menikmati hidup dengan menganggap materi adalah segalanya dan harus terlihat sempurna di hadapan orang lain, padahal mungkin mereka belum tentu senang melakukannya. Hanya karena supaya di anggap wajar di hadapan umum, mereka rela melakukan apa saja. Dan di sisi yang lain, kamu melihat komunitas yang memiliki gaya hidup tersendiri. Mereka menikmati hidup dengan melakukan sesuatu yang berarti, yang bertujuan membantu banyak orang, baik dari sisi politik, lingkungan maupun social. Itu jalan hidup yang mereka pilih, dan mereka sangat menikmatinya. Walaupun terkadang mereka bermasalah dengan finansial, namun itu tak menjadi halangan, dan persoalan itu terselesaikan. Mereka begitu bahagia menikmati hidup.”

Aku sedikit tertegun dengan ucapan itu. Aku mulai berpikir. Aku ingin jadi apa ke depannya nanti. Itu merupakan pilihan bagiku. Aku melihat bagaimana Erix dan teman-temannya melakukan beberapa hal yang sangat berarti bagi banyak orang. Mereka menulis tentang bagaimana kritik dan pemikiran tentang banyak hal. Politik, lingkungan, social, dan ekonomi. Apapun itu. Mereka lakukan dengan mengkritik melalui tulisan di media massa, forum dan beberapa kesempatan diskusi dengan banyak pihak. Mereka memiliki pemikiran, protes, dan mimpi tersendiri untuk mewujudkan banyak hal yang mereka anggap tidak benar di Indonesia dan di negara mana saja.

Jujur sekali aku ingin seperti mereka. Aku ingin menikmati hidup seperti cara mereka menikmatinya. Aku ingin menulis banyak hal. Tapi terkadang, aku malas dan bingung bagaimana untuk memulai menulis. Lalu aku mulai berpikir. Kenapa enggak aku mulai melihat contoh tulisan di Kompas, mungkin mereka bisa menginspirasiku menulis.

Erix mulai menjelaskan, “Kamu bisa mulai menulis tentang apa saja yang ingin kamu tulis. Kalau kamu ingin concern di dunia lingkungan, kamu bisa mulai menulis mengenai lingkungan. Nanti aku edit tulisan nya. Atau nanti kamu bisa belajar mengenai jurnalistik. Aku akan memberimu beberapa tugas di bidang jurnalistik, supaya kamu lebih rajin.”.

“Komunitasmu sebenarnya juga ada di Jogja, akan lebih susah jika kamu menetap di Medan. Kamu akan lebih melakukan banyak hal di sana.” Erix tahu aku tidak suka tinggal di Medan, karena mungkin aku sudah tidak tau banyak mengenai Medan. Selama kuliah aku menempuh waktu 4 tahun yang aku habiskan di Jogja. Di kota itu aku melakukan banyak hal. Bersenang-senang menikmati hidup. Aku tidak takut bahaya. Dan sekaligus juga aku melakukan sesuatu berarti di sana.

April ini kontrakku memang habis di Banda Aceh. Selama 13 bulan, aku bekerja untuk konsultan asing yang berklien dengan BRR dalam program Pembangunan Infrastruktur. Aku belum tau hendak kemana setelah kontrakku habis.

Kami berjalan pulang menuju kos Mas Huzer, tempat di mana Erix menginap selama beberapa hari ini di Banda Aceh. Kami sempat membeli nasi bungkus dan lele goreng, pesanan Mas Huzer untuk makan malam nya. Dalam perjalanan pulang, aku merasa mendapat semangat baru. Kenapa tidak aku mulai menulis tentang banyak hal. Menulis sesuatu yang kusuka. Banyak yang selalu menanyakan, akan jadi apa kamu ke depan nya nanti. Lalu sore itu, seperti aku mendapat jawaban, dengan menulis aku bisa mendapatkan kedamian. Aku punya sarana untuk menyampaikan semua pendapat dan pemikiranku. Walaupun memang tidak menjanjikan segelimpang materi, tapi kepuasan batin pasti aku dapatkan.

Itulah yang ada di benakku sore itu. Kuli tinta mungkin bisa menjadi penyemangat dalam hidup. Menikmati nya dengan melakukan sesuatu yang disukai, seperti Erix dan komunitasnya adalah sebuah pilihan.

Suatu saat nanti, kuli tinta mungkin bisa menjadi sejarah. Namun, itu semua tergantung usaha dan respon masyarakat terhadap mereka.




* Herika Indriani.
Lulusan Planologi UGM. Bekerja di salah satu Konsultan Asing yang berklien ke BRR di Banda Aceh.

Minggu, 26 April 2009

Studi ke Belanda, Ticket to Global Community. “Studi ke Belanda, bisa Bantu Pemerintah Indonesia nanganin banjir”




Studi ke Belanda, Ticket to Global Community
“Studi ke Belanda, bisa Bantu Pemerintah Indonesia nanganin banjir”

*Herika Indriani


Belanda. Siapa yang tidak kenal. Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun. Banyak sekali yang mereka tinggalkan di Indonesia. Dari sisi bahasa, kebudayaan, bangunan bersejarah bahkan keturunan Belanda – Indonesia yang berasal dari jaman penjajahan masih bisa ditemui di Indonesia.

Teman saya, yang mempunyai Bapak Angkat orang Belanda, dan pernah ke Belanda mengatakan, “ Di Belanda, itu bisa merasa sama seperti di Indonesia. Ada sate padang, ada kari ayam. Bahkan orang Belanda sendiri di sana menyebutkan makanan dari daging yang dipanggang dan dibumbui dengan rempah-rempah itu sebagai “sate”. Padahal nama “sate” itu adalah sebutan khas untuk orang Indonesia”.

Mungkin ada banyak kesamaan lain juga antara Indonesia dan Belanda. Saya belum pernah mengunjungi Negari Belanda. Saya sering mendengar cerita orang-orang yang pergi ke Belanda. Mereka bercerita mengenai kincir angin, bunga Tulip, roti Belanda dan yang terakhir yang menggelitik saya yaitu Keju Belanda yang enak sekali jika di minum dengan white wine. Saya pernah mencobanya. Dan memang rasanya pas sekali. Perpaduan antara rasa kelat dari Keju Belanda dan rasa pahit dan hangat dari white wine.

Namun, yang ingin sya ceritakan di sini bukan hanya mengenai lezatnya keju Belanda ataupun nikmatnya wine. Tapi masalah lain yang akhir-akhir ini saya cari, telusuri dan berusaha concern menangani permasalahan Banjir.

Akhir-akhir ini, saya concern memantau isu lingkungan di Indonesia melalui media massa baik Koran maupun Televisi. Saya melihat banyak bencana alam terjadi di Indonesia maupun di negara lain. Khususnya banjir. Banjir memang menjadi tradisi di Indonesia, khususnya di Jakta dan sekitarnya. Musibah yang cukup dahsyat terjadi di Situ Gintung, memakan banyak korban. Belum lagi banjir akibat luapan Bengawan Solo, yang menggenangi banyak daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Jika kita lihat dari sisi geografis Indonesia, terletak di garis khatulistiwa dan merupakan daerah tropis. Belum lagi tadinya Indonesia memiliki banyak hutan yang masih asri.
Coba kita bandingkan dengan Negari Belanda. Belanda merupakan negara dengan ketinggian di bawah permukaan laut. Tapi, jarang sekali saya mendengar berita di televisi, bahwa Negeri Belanda kebanjiran. Sungguh ironi ya. Saya mencoba mencari bagaimana sistem pengairan di Negeri Kincir Angin tersebut.
Saya berpikir mengapa di Indonesia tidak bisa seperti Belanda. Paling tidak dalam hal penanganan banjir. Mungkin dengan melakukan beberapa riset dan studi di Negeri Bunga Tulip itu, dapat memberi sedikit gambaran.

Selama ini, saya mendapatkan banyak hal yang menjadi penyebab terjadinya banjir di Indonesia. Ada beberapa tempat yang saya jadikan lokasi penelitian. Yang pertama di Sungai Bengawan Solo dan yang ke dua di Teluk Pusong, Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam. Mengapa saya pilih di kedua tempat itu?. Karena banjir di dua tempat tersebut memiliki sumber air yang berbeda. Yang satu berasal dari Sungai dan anak-anaknya. Sedangkan yang satunya berasal dari air pasang laut.

Dilihat dari dua tempat, saya mendapat kesimupan awal. Banjir yang terjadi akibat kurangnya daerah resapan air di sekitar sungai maupun pantai. Daerah resapan tersebut sebagian besar ditutupi oleh bangunan ataupun partikel lain yang menghambat masuknya air ke dalam tanah. Hal ini lah yang menjadi penyebab air mengalir dipermukaan tanah.

Seharusnya jika disimpulkan melalui logika, dengan Luas hutan di Indonesia yang mencapai ¾ dari luas Indonesia secara keseluruhan. Seluruh air tersebut semestinya bisa diserap seluruhnya oleh hutan. Namun yang terjadi, hutan-hutan tersebut telah habis dibabat dan dijadikan bangunan bertingkat.

Untuk itu, saya ingin sekali melihat, mempelajari dan mengambil sedikit ilmu Pemerintah Belanda dalam mengelola perairan agar tidak menimbulkan masalah. Masalah banjir.
Memang melihat masalah tidak bisa hanya dari satu sisi saja. Masalah banjir juga perlu dilihat dari sisi social. Tentu saja sangat berkaitan dengan perilaku masyarakat sekitar sungai ataupun pantai. Perilaku masyarakat di Negeri Belanda juga pasti mendukung program pemerintah dalam penanganan perairan.

Dengan keunikan budaya dan perilaku, mungkin kita bisa mencontoh perilaku mereka. Paling tidak untuk tindakan pencegahan banjir. Selain menurut saya, budaya mereka pasti unik dan khas. Senang sekali bisa belajar budaya baru dari mereka, apalagi kalo ternyata kecantol orang Belanda. Mungkin saja, atau seorang sahabat dari Negeri Kincir Angin. ^^