Rabu, 24 Juni 2009

Inspiring from Kuli tinta

Inspiring from Kuli tinta
* Herika Indriani

“Terkadang aku sampai di titik dimana aku merasa, aku belum melakukan apa-apa dalam hidupku, jenuh, kosong, hampa. Rasanya otak dan badanku hanya bergerak sesuai rencana yang kutuliskan di note-book ku. Selebihnya, belum tentu aku mengerjakan nya.

Sore itu, matahari mulai beranjak pulang, perlahan-lahan cahayanya mulai meredeup. Aku dan Erix berjalan di trotoar sepanjang jalan di Lampriet, salah satu pusat kota di Banda Aceh. Erix, salah satu pengamat politik Indonesia yang doyan berdiskusi ini menyeletuk, “Ayo sayang, kita jalan-jalan ke Museum Tsunami saja”.

Lelaki berumur 28 tahun itu memang baru seminggu menginjakkan kaki di Kota bersyariah Islam ini. Dengan perjanjian informal bersama seorang teman yang dulu pernah bergabung bersama dalam program Global Exchange dari British Council Di Inggris dan Makasar selama 6 bulan. Sebut saja namanya Mas Huzer. Begitu biasa aku memanggilnya. Mereka bertiga, salah seorang lagi, Mbak Echa, wanita 26 tahun yang doyan mengelilingi hutan Indonesia maupun luar negeri untuk melakukan berbagai penelitian, dan merupakan lulusan Kehutanan, UGM. Mereka mendapat kontrak tak resmi dengan WWF (World Wildlife Fund), tempat Mas Huzer bekerja, untuk membuat film dokumenter. Mengenai pelestarian lingkungan, sebagai salah satu program kerja dari divisi komunikasi WWF.

“Mahal sekali naik becak dari sini ke Museum Tsunami Aceh” sahut penjual gorengan ketika mendengar kami berencana menuju ke salah satu bangunan baru, berarsitektur unik, sebagai salah satu program kerja BRR.
“O ya”. Jawabku saja.
Kami memutuskan membeli Koran Kompas dulu sebelum melanjutkan perjalanan kaki kami selanjutnya.

Jalanan itu cukup ramai dengan sepeda motor yang berlalu lalang. Gedung-gedung baru di sepanjang Lampriet seolah menyapa dan menyambut keriangan dan guyonan aku dan Erix.
“Gmana kalo kita ke Bakso Sari Rasa aja babe, itu bakso nya cukup enak”. Aku yang sudah setahun lebih menetap di Aceh, pernah beberapa kali menikmati bakso di sana.

Kami cukup melanjutkan sedikit perjalanan dan menyebrang jalan, hingga akhirnya kami sampai di bangunan bertenda merah dan dengan makanan khas bakso yang berada di Jl. Lampriet, Banda Aceh. Beberapa menit kemudian, dua minuman teh botol dan dua mangkok bakso sudah tersaji di atas meja.

Kata demi kata ludes terbaca di Koran Kompas yang kami baca. Sembari melahap nikmatnya bakso, kami selingi dengan membaca Kompas. Matahari mulai meredupkan sinarnya.
“Babe, kamu tau gak, terkadang aku merasa jenuh, bosan. Rasanya aku belum melakukan apa-apa untuk dunia ini. Rasanya otak dan badanku hanya melakukan apa yang sudah kutuliskan di note-book ku. Selebihnya, belum tentu aku mengerjakannya.” Tiba-tiba aku mulai mengeluarkan keluh kesahku yang selama ini sering banget aku rasakan. Erix yang sudah terbiasa mendengar cerita dari ku menanggapi dengan santai saja.
“Memangnya kamu kenapa babe, ayo ceritalah.” Jawabnya santai.
“Kamu tau gak, ako bosan dengan semua kegiatanku selama ini, menuliskan nya terlebih dahulu di notebook dengan banyak rencana setiap hari. Yang terkadang terlaksana atau hanya di coret begitu saja, karena tidak bisa terlaksana di hari itu. Aku sebenernya capek babe. Kadang, aku berpikir, aku mau jadi apa selama hidup. Sebenarnya aku ingin melakukan sesuatu yang berarti, tapi aku tidak tau mau jadi apa. Aku ingin menikmati hidup seperti kamu yang sudah tau mau melakukan apa dalam hidup dan kamu tinggal menjalankannya saja”.

Erix hanya tersenyum mendengarkan ceritaku. Lalu mulai memberiku penjelasan, “Babe, aku mengerti kamu mulai bosan, karena kamu belum menemukan apa yang mau kamu lakukan. Aku mengerti karena selama ini kamu memiliki komunitas yang memang berbeda dengan komunitas yang aku miliki sekarang ini. Kamu pasti melihat dua sisi kehidupan yang memiliki cara berbeda dalam menikmati hidup. Di satu sisi kamu melihat komunitas yang menikmati hidup dengan menganggap materi adalah segalanya dan harus terlihat sempurna di hadapan orang lain, padahal mungkin mereka belum tentu senang melakukannya. Hanya karena supaya di anggap wajar di hadapan umum, mereka rela melakukan apa saja. Dan di sisi yang lain, kamu melihat komunitas yang memiliki gaya hidup tersendiri. Mereka menikmati hidup dengan melakukan sesuatu yang berarti, yang bertujuan membantu banyak orang, baik dari sisi politik, lingkungan maupun social. Itu jalan hidup yang mereka pilih, dan mereka sangat menikmatinya. Walaupun terkadang mereka bermasalah dengan finansial, namun itu tak menjadi halangan, dan persoalan itu terselesaikan. Mereka begitu bahagia menikmati hidup.”

Aku sedikit tertegun dengan ucapan itu. Aku mulai berpikir. Aku ingin jadi apa ke depannya nanti. Itu merupakan pilihan bagiku. Aku melihat bagaimana Erix dan teman-temannya melakukan beberapa hal yang sangat berarti bagi banyak orang. Mereka menulis tentang bagaimana kritik dan pemikiran tentang banyak hal. Politik, lingkungan, social, dan ekonomi. Apapun itu. Mereka lakukan dengan mengkritik melalui tulisan di media massa, forum dan beberapa kesempatan diskusi dengan banyak pihak. Mereka memiliki pemikiran, protes, dan mimpi tersendiri untuk mewujudkan banyak hal yang mereka anggap tidak benar di Indonesia dan di negara mana saja.

Jujur sekali aku ingin seperti mereka. Aku ingin menikmati hidup seperti cara mereka menikmatinya. Aku ingin menulis banyak hal. Tapi terkadang, aku malas dan bingung bagaimana untuk memulai menulis. Lalu aku mulai berpikir. Kenapa enggak aku mulai melihat contoh tulisan di Kompas, mungkin mereka bisa menginspirasiku menulis.

Erix mulai menjelaskan, “Kamu bisa mulai menulis tentang apa saja yang ingin kamu tulis. Kalau kamu ingin concern di dunia lingkungan, kamu bisa mulai menulis mengenai lingkungan. Nanti aku edit tulisan nya. Atau nanti kamu bisa belajar mengenai jurnalistik. Aku akan memberimu beberapa tugas di bidang jurnalistik, supaya kamu lebih rajin.”.

“Komunitasmu sebenarnya juga ada di Jogja, akan lebih susah jika kamu menetap di Medan. Kamu akan lebih melakukan banyak hal di sana.” Erix tahu aku tidak suka tinggal di Medan, karena mungkin aku sudah tidak tau banyak mengenai Medan. Selama kuliah aku menempuh waktu 4 tahun yang aku habiskan di Jogja. Di kota itu aku melakukan banyak hal. Bersenang-senang menikmati hidup. Aku tidak takut bahaya. Dan sekaligus juga aku melakukan sesuatu berarti di sana.

April ini kontrakku memang habis di Banda Aceh. Selama 13 bulan, aku bekerja untuk konsultan asing yang berklien dengan BRR dalam program Pembangunan Infrastruktur. Aku belum tau hendak kemana setelah kontrakku habis.

Kami berjalan pulang menuju kos Mas Huzer, tempat di mana Erix menginap selama beberapa hari ini di Banda Aceh. Kami sempat membeli nasi bungkus dan lele goreng, pesanan Mas Huzer untuk makan malam nya. Dalam perjalanan pulang, aku merasa mendapat semangat baru. Kenapa tidak aku mulai menulis tentang banyak hal. Menulis sesuatu yang kusuka. Banyak yang selalu menanyakan, akan jadi apa kamu ke depan nya nanti. Lalu sore itu, seperti aku mendapat jawaban, dengan menulis aku bisa mendapatkan kedamian. Aku punya sarana untuk menyampaikan semua pendapat dan pemikiranku. Walaupun memang tidak menjanjikan segelimpang materi, tapi kepuasan batin pasti aku dapatkan.

Itulah yang ada di benakku sore itu. Kuli tinta mungkin bisa menjadi penyemangat dalam hidup. Menikmati nya dengan melakukan sesuatu yang disukai, seperti Erix dan komunitasnya adalah sebuah pilihan.

Suatu saat nanti, kuli tinta mungkin bisa menjadi sejarah. Namun, itu semua tergantung usaha dan respon masyarakat terhadap mereka.




* Herika Indriani.
Lulusan Planologi UGM. Bekerja di salah satu Konsultan Asing yang berklien ke BRR di Banda Aceh.