Selasa, 18 November 2008

Lomba Ide Inovasi Lingkungan Sosial

"Proposal Program Ide Inovasi Lingkungan Sosial"
Perkenalkan, nama saya Herika Indriani, sehari-harinya saya biasa dipanggil dengan nama “Erika”. Saat ini saya sedang bekerja di salah satu konsultan lokal yang bekerja sama dengan konsultan asing dalam pembangunan infrastruktur strategis di Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias, pasca pemulihan tsunami.

Awalnya, Saya bekerja pada program tersebut di bidang ”Strategic Planning (Perencanaan Strategis)”. Setelah beberapa bulan dan rencana tersebut telah selesai dilaksanakan, maka saya berpindah divisi ke ”Capacity Building (Kapasitas Bangunan, dalam hal ini Pemerintah Daerah Setempat)”. Sebenarnya saya kurang suka divisi ini, karena menurut saya hanya monoton untuk memberikan pelatihan kepada aparat pemerintah, yang menurut saya belum tentu menjadi sangat bermanfaat bagi mereka. Yang lebih menarik perhatian saya ketika saya mulai bekerja untuk ”Negeri Aceh” adalah rusaknya lingkungan di ”negeri” ini. Dimulai dari rusaknya keindahan pantai, saluran got, hingga saluran air tanah yang menyebabkan tercemarnya pasokan air bersih langsung ke masyarakat. Air-air PDAM yang sampai ke masyarakat menjadi kotor dan berbau kurang sedap. Saya juga melihat air dan keindahan pantai yang tadinya masih asri berubah menjadi timbunan sampah dan keruhnya air di beberapa pantai di Nanggroe Aceh Darussalam.

Bukan hanya itu, saya juga mendengar dari beberapa badan peneliti lingkungan, bahwa kawasan hutan lindung di sepanjang Gunung Leuser terancam ”rusak” akibat pembangunan infrastruktur di daerah tersebut. Saya mulai berpikir sedikit demi sedikit, mengapa banyak industri sekarang ini malah merusak lingkungan yang seharusnya menjadi pelindung bagi kita. Pemulihan bencana alam seharusnya difokuskan pada ”Pengembalian ekosistem lingkungan” malah berkebalikan menjadi ”Pengrusakan ekosistem lingkungan”. Saya seringkali membaca berita di surat kabar atau menonton televisi, bahwa penebangan hutan dilakukan di banyak tempat, khususnya hutan di Sumatera dan Kalimantan. Saya heran mengapa hutan-hutan itu seenaknya ditebang, hutan itu merupakan rumah bagi hewan-hewan yang tinggal di dalamnya. Pohon-pohon itu merupakan penahan terjadinya longsor dan banjir dikala musim hujan datang. Pohon-pohon itu juga yang nantinya akan melindungi kita dari bencana yang datang, tapi saya heran mengapa ”penolong” itu malah ditebang. Saya mencoba menilik ke belakang, mengapa industri itu memerlukan kayu dari hutan. Saya ambil beberapa contoh, Perusahan kertas atau tisu yang membutuhkan bahan baku kayu untuk memproduksi kayu menjadi kertas.

Tentu saja, manusia dengan teknologi tinggi membutuhkan kertas atau tisu untuk proses bekerja, untuk itu industri pembuatan kertas semakin maju pesat. Saya ambil contoh kecil saja, di kantor saya setiap harinya membutuhkan lebih dari 5 rim kertas untuk di print, kemudian tertimbunlah kertas di sudut ruangan atau di tumpukan sampah. Kertas-kertas itu belum tentu sangat berguna bagi mereka, tumpukan kertas itu hanya di baca dan langsung berubah fungsi menjadi penghias meja atau penghias sudut ruangan atau penghias tempat sampah. Padahal dari tumpukan kertas itu, ada berapa banyak pohon yang harus ditebang.
Berulang kali saya dan teman- teman mencoba menyampaikan melaui forum diskusi lewat milis, komunitas dunia maya, bahwa hanya menggunakan kertas seperlunya saja. Namun usaha tersebut memang kurang berhasil. Kami mencoba tunjukkan dengan perbuatan sehari-hari dengan harapan mereka bisa mengikuti juga, namun hasil yang didapat memang kurang maksimal. Memang ini bukan pekerjaan yang gampang.

Saya mengerti mengapa mereka belum ”concern dan aware” terhadap hal ini, karena mereka belum mengerti tentang dampak dan konsekuensi dari kertas tersebut. Saya memiliki ide untuk menyampaikan sebuah ”Kampanye kecil” tentang mengapa kita harus menghemat pemakaian kertas dan tisu. Tentang bagaimana proses produksi tersebut, yang memerlukan kayu gelonggongan yang berusia puluhan tahun dahulu. Kampanye ini hanya berisi pemutaran film pendek, didalamnya juga akan ada dampak dari penebangan kayu tersebut ke masyarakat langsung dan hewan-hewan yang tinggal di dalamnya. Tentunya film tersebut dikemas dengan menarik.
Harapan saya dengan ”Kampanye kecil” ini bisa me”manage” pola pikir mereka kalau kertas-kertas itu tidak seharusnya menjadi terbuang begitu saja, bahwa manfaatkanlah kertas tersebut semaksimal mungkin, karen proses pembuatannya membutuhkan pengorbanan yang tinggi.

Saya hanya ingin berusaha menyadarkan orang-orang disekitar saya, bahwa penting sekali menjaga agar pohon-pohon itu tetap berdiri kuat dihutan, ya tentu saja sebagai penolong kita di saat banjir atau erosi atau longsor datang. Tapi tentu ini, sekali saya tekankan, ini memang bukan hal yang mudah. Tapi saya hanya berprinsip, jika sesuatu itu dimulai dari hal yang kecil, tentunya akan berpengaruh ke hal yang besar juga.


Kamis, 16 Oktober 2008