(Duo Arsitektur Maksimalis – Rumput Gajah Mini)
** Herika Indriani
“Yang ini aja, arsitektur minimalis sekarang lebih banyak dipakai orang. Lebih bagus.” Gadis kecil 14 tahun itu menunjuk ke salah satu desain rumah yang kami lewati. Rumah itu nyaris tidak menyisakan satu meter persegi pun untuk air hujan merembes ke dalam tanah. Hanya tutupan semen bercampur batu alam yang terhampar di halaman rumah.
Di jaman yang serba canggih sekarang, banyak sekali trend yang berlaku di setiap sektor tanpa tau apa penyebabnya hal itu menjadi trend sehingga banyak orang menyukai dan mengikuti trend tersebut. Contohnya saja, arsitektur minimalis. Arsitektur minimalis diperkenalkan para arsitek tahun 2000an. Desain ini diperkenalkan dengan tekstur batu alam dan bermotif senada/monokrom. Alias hanya berpadu dengan campuran hitam dan putih.
Pada awal diperkenalkannya desain ini, rasanya memang sungguh pantas, sebutan “Arsitektur Minimalis” dijunjung tinggi untuk hasil desain yang menggunakan 2 gradasi warna saja, yaitu hitam dan putih atau monokrom lainnya. Di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Medan bahkan Banda Aceh sekalipun yang sedang memperbaiki wajah kota nya sudah mempraktekkan desain ini. Namun dengan nama baru tentunya yaitu “Arsitektur Maksimalis”. Mengapa arsitektur maksimalis? Desain berdasar arsitektur minimalis tersebut sekarang sungguh beragam. Bahkan dengan kreatifitas yang maksimal, desain ini dimodifikasi sedemikian rupa dengan menggunakan warna yang bervariasi dan bahan yang beragam jenis.
Suatu ketika, sedang mengelilingi salah satu kawasan perumahan elit di Jakarta. Secara kebetulan, saya ditemani seorang gadis kecil yang sedang menginjak masa puber. “Yang ini aja, arsitektur minimalis sekarang lebih banyak dipakai orang. Lebih bagus.” Gadis kecil 14 tahun itu menunjuk ke salah satu desain rumah yang kami lewati. Tentu saja itu rumah itu berciri khas Arsitektur Minimalis dengan modifikasi di beberapa bagian nya. Kesan pertama melihat rumah itu, sungguh prihatin. Rumah itu nyaris tidak menyisakan satu meter persegi pun untuk air hujan merembes ke dalam tanah. Hanya tutupan semen bercampur batu alam yang terhampar di halaman rumah.
Beranjak beberapa rumah dari rumah prihatin itu, saya melihat rumah yang sangat asri. Trend itu berpadu dengan hijau kecil berumpun di halaman rumahnya. Dia si gajah mini. Rumput gajah mini. Si kecil hijau berumpun ini tampak subur berkembang biak dengan anak cucunya. Walaupun hanya di pekarangan 4x2 meter persegi. Perkembangan si mini ini memang sedikit lebih lambat dari jenis rumput gajah biasa. “Justru itulah yang menjadi kelebihan nya, jadi tidak perlu dipotong lagi” himbau petani rumput gajah mini selama 10 tahun lebih.
Dengan ukuran daun yang lebih kecil, sehingga dapat menyimpan biaya pada proses perawatan. Selain itu pertumbuhan si mini ini mengarah ke samping sehingga walaupun sudah bertumbuh lebat, si mini ini tetap terlihat asri. Dan tentunya lebih indah di pandang dan terasa lembut di telapak kaki. Walaupun ukuran nya yang kecil dan tumbuh menyamping, generasi baru dari rumput gajah ini lebih tahan cuaca daripada rumput golf ataupun rumpur Swiss atau Manila. “Bukan hanya tahan cuaca, si kecil ini juga lebih tahan terhadap gulma, dan dapat bertahan dari teriknya matahari 2 bulan tanpa di sirami., “Daun nya akan tumbuh kembali jika di guyur hujan sehari” ungkap petani si gajah kecil ini.
Melihat prospek “kecil – kecil jago” ini, dikaitkan dengan isu yang paling berkembang di belahan dunia manapun, yaitu Pemanasan Global / Global Warming. Banyak negara di Eropa dan Amerika, mengkhawatirkan suhu bumi yang semakin lama dapat mengakibatkan mencairnya gunung es di kutub utara. Akibat kecinya juga sering kita alami sendiri di kehidupan sehari-hari. Hari ini panas hingga tak tahan kalau tidak di ruangan ber-AC, besok atau sore harinya sudah diguyur hujan lebat. Perubahan cuaca yang ekstrim ini merupakan salah satu penyebab semakin tingginya suhu kompor bumi.
Di lihat pertumbuhan si gajah kecil tadi, yang tumbuh mengeluarkan oksigen dan menghirup karbondioksida, dapat menyerap kadar CO2 di sekitar kita sehingga dapat mengurangi kadar CO2 yang akan menambah tebalnya efek rumah kaca pada lapisan bumi. Melihat rumah asri paduan arsitektur minimalis dan si rumput kerdil itu sudah menjadi penyumbang oksigen bagi bumi walaupun hanya sebagian kecilnya saja.
Jika salah satu kawasan perumahan di Jakarta atau Medan saja bisa mempraktekkan duo ini, tentunya akan menyumbang jumlah karbondioksida dalam jumlah bisa diperhitungkan. Bagaimana jika seluruh kawasan perumahan di setiap kota besar mempraktekkan hal ini?. Sedikit beranjak ke atas, jika Penanaman rumput di setiap pekarangan rumah bisa saja menjadi salah satu aturan pemerintah dalam ijin membangun rumah.
Jika penanaman rumput ini menumpang trend dengan arsitektur maksimalis, mungkin Indonesia bisa menjadi penyumbang oksigen bagi bumi dalam jumlah yang patut di perhitungkan. Bencana banjir juga bisa di reduksi dengan bantuan si kecil ini. Dengan adanya lahan sebagai media tumbuh si kecil ini, akan membantu penyerapan air ke dalam tanah. Seringkali banjir terjadi akibat kurangnya daya serap air ke dalam tanah. Hal itu di akibatkan oleh banyaknya penghalang masuknya air tersebut. Dengan penanaman si kecil ini di berbagai lokasi perumahan, tentunya berita banjir apalagi di perumahan elit akan semakin jarang kita dengar di televisi.
Jika si rumput ini berdiri sendiri tanpa mendombleng ke trend arsitektur maksimalis, mungkin si kecil akan susah untuk berdiri sendiri. Karena dilihat dari karakteristik wong kito akan lebih suka mengikuti sesuatu yang ngetrend. Untuk itu, harapan nya para developer atau para arsitek tidak keberatan jika si kecil rumput gajah ini menumpang trend pada arsitektur maksimalis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar