Minggu, 26 April 2009

Studi ke Belanda, Ticket to Global Community. “Studi ke Belanda, bisa Bantu Pemerintah Indonesia nanganin banjir”




Studi ke Belanda, Ticket to Global Community
“Studi ke Belanda, bisa Bantu Pemerintah Indonesia nanganin banjir”

*Herika Indriani


Belanda. Siapa yang tidak kenal. Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun. Banyak sekali yang mereka tinggalkan di Indonesia. Dari sisi bahasa, kebudayaan, bangunan bersejarah bahkan keturunan Belanda – Indonesia yang berasal dari jaman penjajahan masih bisa ditemui di Indonesia.

Teman saya, yang mempunyai Bapak Angkat orang Belanda, dan pernah ke Belanda mengatakan, “ Di Belanda, itu bisa merasa sama seperti di Indonesia. Ada sate padang, ada kari ayam. Bahkan orang Belanda sendiri di sana menyebutkan makanan dari daging yang dipanggang dan dibumbui dengan rempah-rempah itu sebagai “sate”. Padahal nama “sate” itu adalah sebutan khas untuk orang Indonesia”.

Mungkin ada banyak kesamaan lain juga antara Indonesia dan Belanda. Saya belum pernah mengunjungi Negari Belanda. Saya sering mendengar cerita orang-orang yang pergi ke Belanda. Mereka bercerita mengenai kincir angin, bunga Tulip, roti Belanda dan yang terakhir yang menggelitik saya yaitu Keju Belanda yang enak sekali jika di minum dengan white wine. Saya pernah mencobanya. Dan memang rasanya pas sekali. Perpaduan antara rasa kelat dari Keju Belanda dan rasa pahit dan hangat dari white wine.

Namun, yang ingin sya ceritakan di sini bukan hanya mengenai lezatnya keju Belanda ataupun nikmatnya wine. Tapi masalah lain yang akhir-akhir ini saya cari, telusuri dan berusaha concern menangani permasalahan Banjir.

Akhir-akhir ini, saya concern memantau isu lingkungan di Indonesia melalui media massa baik Koran maupun Televisi. Saya melihat banyak bencana alam terjadi di Indonesia maupun di negara lain. Khususnya banjir. Banjir memang menjadi tradisi di Indonesia, khususnya di Jakta dan sekitarnya. Musibah yang cukup dahsyat terjadi di Situ Gintung, memakan banyak korban. Belum lagi banjir akibat luapan Bengawan Solo, yang menggenangi banyak daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Jika kita lihat dari sisi geografis Indonesia, terletak di garis khatulistiwa dan merupakan daerah tropis. Belum lagi tadinya Indonesia memiliki banyak hutan yang masih asri.
Coba kita bandingkan dengan Negari Belanda. Belanda merupakan negara dengan ketinggian di bawah permukaan laut. Tapi, jarang sekali saya mendengar berita di televisi, bahwa Negeri Belanda kebanjiran. Sungguh ironi ya. Saya mencoba mencari bagaimana sistem pengairan di Negeri Kincir Angin tersebut.
Saya berpikir mengapa di Indonesia tidak bisa seperti Belanda. Paling tidak dalam hal penanganan banjir. Mungkin dengan melakukan beberapa riset dan studi di Negeri Bunga Tulip itu, dapat memberi sedikit gambaran.

Selama ini, saya mendapatkan banyak hal yang menjadi penyebab terjadinya banjir di Indonesia. Ada beberapa tempat yang saya jadikan lokasi penelitian. Yang pertama di Sungai Bengawan Solo dan yang ke dua di Teluk Pusong, Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam. Mengapa saya pilih di kedua tempat itu?. Karena banjir di dua tempat tersebut memiliki sumber air yang berbeda. Yang satu berasal dari Sungai dan anak-anaknya. Sedangkan yang satunya berasal dari air pasang laut.

Dilihat dari dua tempat, saya mendapat kesimupan awal. Banjir yang terjadi akibat kurangnya daerah resapan air di sekitar sungai maupun pantai. Daerah resapan tersebut sebagian besar ditutupi oleh bangunan ataupun partikel lain yang menghambat masuknya air ke dalam tanah. Hal ini lah yang menjadi penyebab air mengalir dipermukaan tanah.

Seharusnya jika disimpulkan melalui logika, dengan Luas hutan di Indonesia yang mencapai ¾ dari luas Indonesia secara keseluruhan. Seluruh air tersebut semestinya bisa diserap seluruhnya oleh hutan. Namun yang terjadi, hutan-hutan tersebut telah habis dibabat dan dijadikan bangunan bertingkat.

Untuk itu, saya ingin sekali melihat, mempelajari dan mengambil sedikit ilmu Pemerintah Belanda dalam mengelola perairan agar tidak menimbulkan masalah. Masalah banjir.
Memang melihat masalah tidak bisa hanya dari satu sisi saja. Masalah banjir juga perlu dilihat dari sisi social. Tentu saja sangat berkaitan dengan perilaku masyarakat sekitar sungai ataupun pantai. Perilaku masyarakat di Negeri Belanda juga pasti mendukung program pemerintah dalam penanganan perairan.

Dengan keunikan budaya dan perilaku, mungkin kita bisa mencontoh perilaku mereka. Paling tidak untuk tindakan pencegahan banjir. Selain menurut saya, budaya mereka pasti unik dan khas. Senang sekali bisa belajar budaya baru dari mereka, apalagi kalo ternyata kecantol orang Belanda. Mungkin saja, atau seorang sahabat dari Negeri Kincir Angin. ^^


Senin, 23 Maret 2009

Aceh Tsunami Museum



Pasti bagi yang tinggal di Aceh, udah tau tentang keberadaan Musium Tsunami Aceh yang baru selesai di bangun awal tahun ini. Tapi musium itu belum diselesaikan sempurna. Pengunjung masih belum boleh masuk ke lantai 2 yang (katanya berisi pameran foto2 pasca tsunami Aceh Nias 2004 lalu).

Di lantai satu ada kolam yang cukup luas, dan disediakan tempat duduk bagi pengunjung yang ingin bersantai sambil menikmati angin semilir yang sejuk. Selain itu desain bangunan ini yang terbilang cukup unik juga menjadi salah satu land mark di kawasan Banda Aceh khususnya sekitaran Blang Padang. Tempat ini juga bagus dijadikan tempat bersantai di sore hari, dengan desain bangunan yang terbuka.
Jika dilihat dari luar, arsitekturnya yang terbilang unik, menghabiskan dana 60 milyar rupiah. Banyak ya?

Sebulan yang lalu, Pak SBY dan ibu meresmikan Museum ini, sekaligus Pelabuhan Ule le lhue yang baru di renovasi. Diharapkan kawasan Aceh Tsunami Museum dan Pelabuhan Ule le lhue menjadi ikon pariwisata baru di Banda Aceh, sehingga dapat mendongkrak citra Aceh sebagai kota pariwisata.

Silahkan dilihat foto2 yang udah aku publish..
Cheers ^_^















Rabu, 18 Maret 2009

....Aceh Berias Diri....




Sudah pernah jalan-jalan ke Banda Aceh ke arah pelabuhan Ule le lhue dalam waktu dekat ini? Beberapa minggu yang lalu aku bareng temenku (umara) jalan2 ke Pelabuhan Ule le lhue, ternyata pelabuhan itu banyak berubah. Sekarang, pelabuhan itu sudah dijadikan salah satu tempat wisata bagi orang2 yang berdomisili di Banda Aceh & sekitarnya.
Menurutku perencanaan nya cukup bagus, beberapa meter dari pantai dibangun tanggul untuk menahan ombak yang datang dari laut. So, pengunjung bisa bermain-main di pantai dengan aman dari ombak. Bukan itu aja, jalan yang di bangun ke area itu juga sudah diperbaiki, walaupun belum sempurna pembangunan nya, tapi paling tidak jalan menuju pelabuhan itu sudah di aspal. Begitu juga dengan pelabuhan nya sendiri, sudah di renovasi baik interior maupun eksteriornya. Sayang, aku kemaren tidak sempat masuk ke dalam pelabuhan nya. Aku cuma sempet lihat dari luar aja. hehehhee...

tapi dilihat dari pembangunan ini, bisa di bilang, Fokus pembangunan Aceh ke depan sepertinya di fokuskan ke pengembangan daerah menuju kawasan pariwisata. Menurutku, itu bagus sekali, karena memang aceh itu punya banyak potensi alam yang masih asri sekali, dan sayang kalau tidak di manfaatkan lebih maksimal (pemikiran bisnis). hehhehee..

Masih banyak tempat2 di Aceh yang masih perawan (masih belum dijamah investor/pemerintah), contohnya kawasan Sabang/Iboh yang masih belum dikenal masyarakat Indonesia karena pemandangan laut dan bawah lautnya yang bagus sekali.

Ini aku postingin beberapa foto di Pelabuhan Ule le lhue yang menurutku sudah berubah drastis (sejak aku datang 1 tahun lalu hingga sekarang). Silahkan berkunjung ke Ule le lhue untuk melepas penat sesaat.











Selasa, 03 Februari 2009

Teropong Bintang ke dua di Indonesia






Waktu itu sehabis pelatihan training selesai, aku di ajakin salah satu Staf ahli BRR: Pak Ramoni (di foto sebelah kananku) untuk melihat planetarium di daerah Lhoknga, Kab. Aceh Besar. Tempatnya cukup dekat jika ditempuh dari Banda Aceh, kira-kira 45 menit dari Kota Banda Aceh.

Pak Ramoni bercerita, "Ini planetarium terbaru ke dua di Indonesia, karena yang satunya baru ada ada di Lembang, yang sering kita kenal dengan Teropong Bintang Bosa"

Aku berpikir, apa ia benar ada bosa kedua di Aceh, lalu aku mulai bertanya layaknya wartawan ke Bapak yang cukup ramah ini.

Ternyata selama perjalanan menuju planetorium itu aku mendapat informasi kalau Bangunan Planetarium itu dibangun dengan tujuan memfasilitasi masyarakat Aceh dalam menentukan tanggal Arab yang diperhitungkan dari pergeseran bintang dan ras-ras nya, dan di fasilitasi oleh BRR.

Sebelum pembangunan kawasan itu dilaksanakan, ternyata banyak komflik yang timbul, bahkan hingga menimbulkan kerusuhan, tapi syukurlah semua masih bisa di atasi.

Kawasan itu terdiri dari 1 bangunan gedung, beberapa teropong bintang dan kawasan halaman yang luas. Menurut informasi dari PakRamoni, teropong-teropong bintang itu langsung di datangkan dari Jepang, dan merupakan teropong paling canggih dengan teknologi tinggi (dibandingkan dengan teropong bintang di Bosa) di Indonesia.

Seperti anak kecil melihat mainan baru, saya langsung takjub melihat kecanggihan alat-alat tersebut. Kita bisa melihat dengan jelas bentuk bintang yang sedang ada di langit dan mereka membenruk ras-ras bintang yang berbeda-beda setiap malam nya.

Di dalam bangunan gedung itu juga banyak menampilkan foto-foto bentuk bintang yang sedang bersinar dan bentuknya bagus sekali. Ternyata menurut ilmu astronomi, bintang juga sama seperti manusia, dia bisa lahir dan mati. Berdasarkan ciri dan bentukannya, bintang juga dikelompokkan sehingga dianggap menjadi satu ras atau satu orang tua.

Untuk kedepannya, kawasan planetorium itu akan digunakan sebagai pusat studi pengembangan pembelajaran astronomi bagi mahasiswa ataupun kalangan umum yang tertarik untuk mempelajari astronomi lebih lanjut. Kalangan umum juga diperbolehkan mengunjungi tempat ini, dengan aturan-aturan yang disusun sehingga anak kecil hingga orang dewasa dapat merasa akrab dengan dunia angkasa dan mengetahui kehidupan dunia angkasa walaupun berjarak dari bumi.

Jika dipikir-pikir, sungguh beruntung masyarakat Aceh mendapat fasilitas ini, tidak semua daerah di Indonesia yang terpilih mendapat "rejeki" seperti ini. Semoga saja "rejeki" ini bisa di manfaatkan maksimal oleh masyarakat sekitar. Mungkin dengan perawatan dan metode penggunaan bisa dikoordinir lebih simpel, sehingga masyarakat tertarik menggeluti dunia astronomi ini.

Tapi sepertinya, tidak banyak orang, khususnya di Aceh yang tidak mengetahui tempat ini, mungkin sosialisasi seperti Iklan Lokasi Hiburan, penting dilakukan untuk memberikan informasi tentang keberadaan Planetarium ini.

Sekedar informasi, Planetarium ini dekat dengan Pantai Lhoknga, jadi kalau ingin berkunjung ke daerah ini, bisa sekaligus menikmati keindahan Pantai Lhoknga, atau sebaliknya juga.

Untuk tampilan beberapa foto, bisa dilihat di blog ini....

Silahkan berkunjung ya..

Thanx to Pak Ramoni, untuk invite me.... "_"







"Suka duka memberikan bantuan ilmu ke masyarakat aceh..





"Suka duka memberikan bantuan ilmu ke masyarakat aceh..
Capacity Building, tak semudah yang kita bayangkan…."

“Apa Pak, Berubah lagi?” Erika terkaget mendengar Pak Ismet mengatakan perubahan jadwal pelatihan yang sudah berubah ke tiga kali nya. Jadwal yang sudah tersusun rapi berikut detail budget yang telah diperhitungkan matang terbuang sia-sia hanya menjadi onggokan kertas di salah satu sudut sisi kantor IREP-IPM. Tim Capacity Building (CB) IREP IPM sedang berjuang untuk menyusun proposal pengadaan training Pengadaan Barang & Jasa (Procurement) dan Pelatihan Kendali Mutu, Kendali Kontrol & Lingkungan (QC-qa & Safeguards).

Misi Bank Dunia di April 2008 menghasilkan keputusan bahwa CB IREP IPM harus menyusun proposal tahap I yaitu Capacity Building for Infrastructure Program Protection atau sering disebut Fast Track Program dengan nilai 5,95 M IRD. Oleh sebab itu seluruh anggota tim harus berkoordinasi hingga proposal tersebut selesai pada Juni 2008. Proposal tersebut berisi garis besar Pelaksanaan Pelatihan Pengadaan Barang & Jasa (Procurement) dengan target peserta 200 orang dan Pelatihan Kendali Mutu & Lingkungan (QC-qa & Safeguards) dengan target peserta 800 orang (200 untuk profesional staff dan 600 untuk sub profesional staf).

Ternyata kerja keras CB IPM mendapatkan hasil, pada Juli 2008, CB IPM mendapat kunjungan dari Representatif Bank Dunia untuk bidang Capacity Building yaitu Mr. Omer dari Washington DC. Kedatangan Pak Omer ke Banda Aceh mendukung 100% Program CB yaitu pelaksanaan training. Dukungan itu ditandai dengan disusunnya Aide Memoar berisi dukungan terhadap pelaksanaan training.

Sebenarnya jika dilihat dari TOR (Terms of Reference) Capacity Building IREP-IPM, belum menjelaskan bahwa Tim Capacity Building harus melaksanakan training untuk periode tahun 2009. Namun setelah melalui diskusi panjang antara BRR dan IREP, menyepakati bahwa Pelatihan Pengadaan Barang & Jasa dan Pelatihan Kendali Mutu, Kendali Kontrol & Lingkungan (QC-qa & Safeguards) menjadi focus utama kegiatan Capacity Building saat ini.

Focus utama pelatihan awalnya ditujukan pada PPK dan kabupaten yang terkait dengan pengelolaan pengembangan infrastruktur dari proyek IREP IRFF, namun akhirnya focus tersebut beralih ke aparat di lingkungan SKPD pemerintah. Akhirnya proposal selesai dilaksanakan tepat sebelum misi Bank Dunia pada Oktober 2008. Persiapan misi Bank Dunia dipersiapkan dengan presentasi dan laporan utama berisi persiapan pelatihan dengan harapan mendapat dukungan dari Bank Dunia dan BRR sehingga training dapat dilaksanakan sesuai jadwal.

Tindakan lanjutan dari tercetusnya Aide Memoar tersebut adalah disusunnya Kerangka Acuan Kerja / TOR (Terms if reference) dari masing-masing pelatihan dan Proposal Capacity Building for Infrastructure Protection Plan - Training Implementation Plan for NAD – Nias. Sembari penyusunan proposal, misi Bank Dunia juga hadir di Oktober 2008. Pada saat itu, CB mempunyai kesempatan untuk mempresentasikan draft proposal yang sudah disusun dengan harapan mendapat dukungan dari Bank Dunia.

Ternyata, harapan itu sia-sia, Bu Lusi selaku Team Leader CB IPM naik menuju ruangannya setelah selesai melakukan presentasi di depan utusan Bank Dunia tertunduk lemas sambil menarik nafas. Ibu dua putra itu tidak berkata apa-apa hanya diam memasuki ruangannya di lantai dua dan langsung menyambar tas mukena nya berjalan menuju kamar mandi, sembari berjalan beliau sempat berpesan ke seluruh tim, katanya,”Saya sholat dulu, habis itu kita ngobrol sebentar”.

Seluruh tim seolah-olah mengerti dengan ekspresi team leader mereka, dan hanya berbisik-bisik mencoba menganalisa keputusan dari hasil presentasi tersebut.

“Saya mau seluruh tim ini solid!!!!” Begitu kata Bu Lusi sambil sedikit manrik nafas ke seluruh tim, setelah semua anggota berkumpul. ”Saya tidak mau melihat ada yang berlari-lari terbirit-birit karena ngurusin proposal yang deadline, sementara ada yang dengan santai saja pulang jam 5 teng, seolah-olah tidak punya tanggung jawab terhadap tugas capacity building ini sendiri”. Bu Lusi sedikit emosi mengeluarkan kata-kata yang menurut beliau memang harus disampaikan ke setiap anggota tim, karena sebelumnya beliau juga sudah mendapat teguran dan masukan dari Pak Sarwar, selaku Program Director IREP yang banyak mendukung untuk pelaksanaan pelatihan ini.

Seminggu sesudah liburan lebaran usai, seluruh anggota CB adalah penghuni terakhir kantor IREP IPM hingga larut malam, hingga pukul 2 pagi, terkadang jam 11 malam, dan pernah hingga pukul 5 pagi.
“Kaki saya sampai bengkak dan harus istirahat seharian dirumah” kata Pak Ismet, salah satu tim CB. Kenapa tidak? Paling tidak setiap harinya beberapa orang di CB harus pulang sampai larut malam, mungkin paling cepat jam 9 malam.
“Itu saja sudah syukur kalo sampai jam 9 malam” sambung Erika menimpali omongan Pak Ismet.

Seluruh anggota CB bekerja keras mengedit proposal tersebut hingga akhirnya pada 7 November, proposal Training Implementation Plan” dapat di submit untuk diberikan ke Bank Dunia.

Chris Summers, adviser Deputi Infrastruktur memberi banyak masukan dan terlibat langsung dalam penyusunan proposal “Training Implementation Plan”. Dimulai dari anggaran biaya dan jadwal yang selalu berubah sesuai dengan perubahan anggaran biaya. “Pak Chris, itu semakin malam semakin semangat, kebalikan sekali dengan orang-orang pada umumnya”. Begitu kata Bu Lusi sewaktu menghabiskan setiap malam di kantor dengan beberapa anggota tim CB untuk merampungkan seluruh keperluan proposal rencana training.
Setelah terlibat perdebatan sengit antara penyusun proposal yang terkadang harus berlimbah “airmata” dan jatuh sakit, akhirnya pelatihan ditetapkan tanggal 1 Desember 2008 untuk Pelatihan Kendali Mutu bidang manager dan tanggal 15 Desember untuk Pelatihan Pengadaan Barang & Jasa. Seluruh tim harus berpencar (all out) membagi tugas untuk merekrut peserta sesuai jumlah target yang disepakati yaitu 65 orang. Begitu juga untuk pelatihan pengadaan barang dan jasa untuk angkatan pertama yaitu 105 orang. Jumlah peserta di awal masih jauh sekali dari target. Sementara tim mencari peserta, sebagian lagi mengkoordinasikan materi dan fasilitator pelatihan ke PUSBIN KPK dan BKPP Provinsi NAD & Bappenas.

Di lain pihak Bu Lusi sebagai Team Leader, juga berkoordinasi dengan PMU (Program Management Unit) dan Bank Dunia selaku tim donor. Kembali lagi, Bu Lusi harus menarik nafas dengan melihat keadaan yang ada. PMU tidak akan memberi surat persetujuan jika pihak Bank Dunia tidak lebih dahulu mengeluarkan No Objection Letter (NOL), begitu juga dengan Bank Dunia yang menunggu BRR atau PMU untuk memperbaiki Addendum yang sudah disubmit.

Ini namanya fenomena ”Ayam” dan ”Telor” dan para expat juga setuju dengan fenomena ”Chichken and Egg”. Dengan kata lain, berdasarkan rapat pleno antara Bank Dunia, PMU dan advisornya (Pak Chris), diputuskan bahwa kegiatan training (Capacity Building) IPM untuk sementara dipending sampai waktu yang tidak ditentukan. Seluruh tim sangat kecewa dan putus asa, namun bukan Bu Lusi namanya kalau tidak bisa memompa semangat anak buah nya, serta bersikeras untuk melaksanakan program CB-IPM demi saudara-saudara kita di NAD & Nias.

Setelah merekonsiliasi kegiatan CB selama satu minggu, singkat kata Team Leader CB IPM bersama Activity Program Director, Pak Greg Lee menghadap Pak Eddy Purwanto (Deputi Bidang Operasi BRR) yang notabene berkomitmen untuk membaktikan waktu dan pikirannya untuk CB IPM, untuk melapor bahwa program CB dipending untuk waktu yang tidak ditentukan. Tanpa diduga Pak Eddy langsung mengangkat telepon dan berbicara dengan Bank Dunia representative untuk MDF di Banda Aceh, Pak Lixin Gu, mempertanyakan mengapa harus dipending dan menghimbau Bank Dunia untuk mengkonsider agar program training CB IPM dilaksanakan segera. Itu juga kalau Bank Dunia memang concern terhadap kemajuan saudara-saudara kita di Aceh.

Akhirnya dengan serta merta Pak Lixin Gu hadir di BRR untuk mengatasi problem ”Chichken & Egg” tadi dengan niat baik ingin melaksanakan program training CB IPM ini dengan cara lain. Untuk itu disepakati bahwa kegiatan training akan dilaksanakan pada tanggal 15 Desember 2008. Seluruh anggota CB akhirnya bekerja keras untuk mengumpulkan jumlah peserta sesuai target yang direncanakan. Di tanggal 6 Desember, seluruh anggota CB sudah mendapat 22 orang calon peserta Pelatihan QC-qa & Safeguard. Namun, pada tanggal 7 Desember sekitar pukul 9 malam, Bu Lusi mendapat telepon dari Michael Tiwang, utusan satker BRR, bahwa pelatihan harus diundur hingga batas waktu yang tidak ditentukan dengan sebuah alasan yang kurang jelas dari Bank Dunia. Setelah berkoordinasi dengan Pak Greg Lee, tim internal akhirnya harus memutuskan untuk menunda pelatihan sampai ada kabar baru dari Bank Dunia.

Seluruh anggota bingung bagaimana harus mengatakan ke calon peserta bahwa pelatihan diundur lagi sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Dan selama itu juga tim CB masih diributkan untuk masalah administrasi oleh keuangan IPM. Akhirnya diputuskan bahwa semua kegiatan ditunda menunggu kepastian dari Bank Dunia dan PMU. Berselang sehari dari pengunduran itu, angin segar kembali berhembus. ”Pelatihan ini harus jadi sebelum tahun 2008 ini selesai” Begitu kata Pak Edi dari BRR. Setelah berkoordinasi dengan Greg Lee, selaku Project Director GHD, konsultan IREP IPM, tim CB juga gencar mencari peserta hingga mencapai target 30 orang.

Berbagai masalah administrasi termasuk pembayaran di muka uang tempat pelatihan hingga penjemputan peserta langsung ke kabupaten terdekat dijalani anggota CB demi terlaksana pelatihan ini. Pada tanggal 17 Desember 2008, acara pembukaan pelatihan QC-qa & Safeguard dilaksanakan di Training Centre Unsyiah, Banda Aceh. Acara itu berlangsung cukup lancar setelah sehari sebelumnya masih berjuang keras untuk mendatangkan utusan BRR untuk membuka acara pembukaan ini. Pak Bastian selaku Deputi Infrastruktur BRR menandatangani kontrak dengan Pak Krisna selaku utusan PUSBIN KPK sebagai penyelenggara kegiatan.

Pelatihan berjalan lancar dengan beberapa senyum dari anggota CB mengingat perjuangan hingga pelatihan ini dilaksanakan. Penutupan pelatihan pada tanggal 20 Desember juga ditutup dengan evaluasi dan kesan pesan yang positif. Pelatihan untuk kelas engineer, inspector dan Pelatihan Pengadaan barang & Jasa yang rencananya akan dilakukan Januari 2009 juga di sambut baik oleh peserta pelatihan.


Herika Indriani

(editing by CB Team)



Selasa, 18 November 2008

Lomba Ide Inovasi Lingkungan Sosial

"Proposal Program Ide Inovasi Lingkungan Sosial"
Perkenalkan, nama saya Herika Indriani, sehari-harinya saya biasa dipanggil dengan nama “Erika”. Saat ini saya sedang bekerja di salah satu konsultan lokal yang bekerja sama dengan konsultan asing dalam pembangunan infrastruktur strategis di Nanggroe Aceh Darussalam dan Nias, pasca pemulihan tsunami.

Awalnya, Saya bekerja pada program tersebut di bidang ”Strategic Planning (Perencanaan Strategis)”. Setelah beberapa bulan dan rencana tersebut telah selesai dilaksanakan, maka saya berpindah divisi ke ”Capacity Building (Kapasitas Bangunan, dalam hal ini Pemerintah Daerah Setempat)”. Sebenarnya saya kurang suka divisi ini, karena menurut saya hanya monoton untuk memberikan pelatihan kepada aparat pemerintah, yang menurut saya belum tentu menjadi sangat bermanfaat bagi mereka. Yang lebih menarik perhatian saya ketika saya mulai bekerja untuk ”Negeri Aceh” adalah rusaknya lingkungan di ”negeri” ini. Dimulai dari rusaknya keindahan pantai, saluran got, hingga saluran air tanah yang menyebabkan tercemarnya pasokan air bersih langsung ke masyarakat. Air-air PDAM yang sampai ke masyarakat menjadi kotor dan berbau kurang sedap. Saya juga melihat air dan keindahan pantai yang tadinya masih asri berubah menjadi timbunan sampah dan keruhnya air di beberapa pantai di Nanggroe Aceh Darussalam.

Bukan hanya itu, saya juga mendengar dari beberapa badan peneliti lingkungan, bahwa kawasan hutan lindung di sepanjang Gunung Leuser terancam ”rusak” akibat pembangunan infrastruktur di daerah tersebut. Saya mulai berpikir sedikit demi sedikit, mengapa banyak industri sekarang ini malah merusak lingkungan yang seharusnya menjadi pelindung bagi kita. Pemulihan bencana alam seharusnya difokuskan pada ”Pengembalian ekosistem lingkungan” malah berkebalikan menjadi ”Pengrusakan ekosistem lingkungan”. Saya seringkali membaca berita di surat kabar atau menonton televisi, bahwa penebangan hutan dilakukan di banyak tempat, khususnya hutan di Sumatera dan Kalimantan. Saya heran mengapa hutan-hutan itu seenaknya ditebang, hutan itu merupakan rumah bagi hewan-hewan yang tinggal di dalamnya. Pohon-pohon itu merupakan penahan terjadinya longsor dan banjir dikala musim hujan datang. Pohon-pohon itu juga yang nantinya akan melindungi kita dari bencana yang datang, tapi saya heran mengapa ”penolong” itu malah ditebang. Saya mencoba menilik ke belakang, mengapa industri itu memerlukan kayu dari hutan. Saya ambil beberapa contoh, Perusahan kertas atau tisu yang membutuhkan bahan baku kayu untuk memproduksi kayu menjadi kertas.

Tentu saja, manusia dengan teknologi tinggi membutuhkan kertas atau tisu untuk proses bekerja, untuk itu industri pembuatan kertas semakin maju pesat. Saya ambil contoh kecil saja, di kantor saya setiap harinya membutuhkan lebih dari 5 rim kertas untuk di print, kemudian tertimbunlah kertas di sudut ruangan atau di tumpukan sampah. Kertas-kertas itu belum tentu sangat berguna bagi mereka, tumpukan kertas itu hanya di baca dan langsung berubah fungsi menjadi penghias meja atau penghias sudut ruangan atau penghias tempat sampah. Padahal dari tumpukan kertas itu, ada berapa banyak pohon yang harus ditebang.
Berulang kali saya dan teman- teman mencoba menyampaikan melaui forum diskusi lewat milis, komunitas dunia maya, bahwa hanya menggunakan kertas seperlunya saja. Namun usaha tersebut memang kurang berhasil. Kami mencoba tunjukkan dengan perbuatan sehari-hari dengan harapan mereka bisa mengikuti juga, namun hasil yang didapat memang kurang maksimal. Memang ini bukan pekerjaan yang gampang.

Saya mengerti mengapa mereka belum ”concern dan aware” terhadap hal ini, karena mereka belum mengerti tentang dampak dan konsekuensi dari kertas tersebut. Saya memiliki ide untuk menyampaikan sebuah ”Kampanye kecil” tentang mengapa kita harus menghemat pemakaian kertas dan tisu. Tentang bagaimana proses produksi tersebut, yang memerlukan kayu gelonggongan yang berusia puluhan tahun dahulu. Kampanye ini hanya berisi pemutaran film pendek, didalamnya juga akan ada dampak dari penebangan kayu tersebut ke masyarakat langsung dan hewan-hewan yang tinggal di dalamnya. Tentunya film tersebut dikemas dengan menarik.
Harapan saya dengan ”Kampanye kecil” ini bisa me”manage” pola pikir mereka kalau kertas-kertas itu tidak seharusnya menjadi terbuang begitu saja, bahwa manfaatkanlah kertas tersebut semaksimal mungkin, karen proses pembuatannya membutuhkan pengorbanan yang tinggi.

Saya hanya ingin berusaha menyadarkan orang-orang disekitar saya, bahwa penting sekali menjaga agar pohon-pohon itu tetap berdiri kuat dihutan, ya tentu saja sebagai penolong kita di saat banjir atau erosi atau longsor datang. Tapi tentu ini, sekali saya tekankan, ini memang bukan hal yang mudah. Tapi saya hanya berprinsip, jika sesuatu itu dimulai dari hal yang kecil, tentunya akan berpengaruh ke hal yang besar juga.


Kamis, 16 Oktober 2008